Selasa, 24 November 2009

23 Tahun Koma dalam Kondisi Sadar

LIEGE - Kecelakaan mobil yang dialami Rob Houben pada 1983 mengubah seluruh jalan hidupnya. Saat itu dokter memvonisnya koma, tapi 23 tahun kemudian dia ditemukan dalam kondisi sadar.Selama 23 tahun itu Rob mengalami kondisi yang tidak mengenakkan. Dia tidak bisa bergerak dan sepanjang waktu hanya terus berbaring di atas ranjang. Namun dia beruntung, ibunya, Josephine Houben, tak pernah lelah mendampinginya.Rob masih berusia 20 tahun pada saat kecelakaan mobil pada 1983 itu menimpanya. Dokter yang merawatnya lalu memprediksi bahwa kesadarannya telah padam. Pemberitahuan ini bagai melumpuhkan persendian Josephine.Tidak ada satu pun ibu di dunia yang rela jika anaknya mendapat vonis demikian. Namun Josephine percaya, keajaiban akan datang pada waktunya, asalkan manusia berusaha. Tahun demi tahun keadaan Rob tidak juga membaik. Pemuda itu tetap terbaring lemah, bagai berada di dua dunia. Memandang putranya yang hanya bisa terbujur lelap di atas ranjang selama puluhan tahun tentu membuat siapa saja yang mengunjunginya merasa sedih.Namun Josephine tidak pernah sedetik pun mengabaikan Rob. Ibu luar biasa ini tetap setia di samping ranjang anaknya, sambil mengupayakan hal-hal yang sekiranya mampu mengembalikan kondisi anaknya seperti sedia kala. Josephine percaya, jika seseorang memiliki keyakinan, maka dia akan menemukan jalan terbaik atas semua masalahnya.Selama puluhan tahun Josephine dan suaminya selalu menanam harapan bagi kesembuhan Rob. Setiap hari Josephine selalu mengajak Rob bicara. Walaupun yang tersedia hanya komunikasi satu arah, Josephine yakin anaknya bisa mendengar setiap kata yang dia bisikkan pelan-pelan di sampingnya. Dia memperlakukan Rob seperti layaknya manusia normal yang tidak didera sakit apa pun.Jika waktu makan tiba, Josephine akan dengan senang hati dan penuh kesabaran menyuapi Rob. "Kami mencoba memberikan kehidupan yang normal bagi Rob," paparnya.Selama terbaring di atas ranjang Rob tidak pernah membuka mata. Dia seperti bayi yang lelap dalam tidur panjangnya. Pada 1997 ayah Rob meninggal dunia. Josephine berlari ke rumah sakit untuk memberitahukan kabar duka cita ini kepada Rob. Dia berbicara dengan hati-hati, karena tidak ingin kondisi Rob semakin parah."Rob menutup matanya. Tidak ada satu tetes air mata mengalir dari kelopak matanya. Tapi saya tahu, dia mengerti," ujar Josephine.Kesetiaan dan kekuatan hati Josephine yang telah teruji selama 23 tahun menemukan keajaiban. Tiga tahun lalu, alat pemindai berteknologi canggih menunjukkan adanya aktivitas pada saraf otak Rob.Orang pertama yang paling bahagia tentulah Josephine. Inilah keajaiban yang sangat dinantikannya selama puluhan tahun. Ibu yang kini berusia 73 tahun ini segera memindahkan Rob ke sebuah pusat perawatan penyakit khusus di Zolder, Belgia. Kebahagiaan Josephine kian bertambah ketika Rob mulai bisa berkomunikasi dengan bantuan komputer.Suatu hari Josephine membaca sebuah kalimat di monitor komputer Rob. Pesan ini berbunyi, "Ibu, maafkan aku karena tidak bisa mendampingi ibu ketika ayah meninggal."Walau peristiwa kematian suaminya telah lama berlalu, namun pesan ini memberikan penjelasan baru bagi Josephine. Keyakinan tak terbantahkan bahwa Rob bisa mendengar dan merasakan selama terbaring koma, ternyata benar adanya.Kemajuan Rob semakin signifikan. Dia mulai rajin menulis pesan lewat komputer khususnya. "Saya ingin membaca dan berbicara tentang apa saja dengan teman-temanku. Saya ingin melakukan berbagai hal, sehingga orang-orang tahu bahwa saya tidak mati. Saya masih hidup," tulisnya.Rob mengaku tidak pernah menyalahkan siapa pun atas kondisi memprihatinkan yang pernah dijalaninya selama puluhan tahun. Baginya, berada dalam kondisi koma selama 23 tahun hanyalah bagian kecil dari sebuah pertunjukan drama yang panjang. Rob mengaku, awalnya dia marah atas ketidak berdayaannya, tapi akhirnya belajar hidup dengan kondisinya."Orang lain boleh punya pendapat tentang saya," ujar Rob, kini berusia 46 tahun, kepada BBC. "Saya tahu apa yang bisa saya lakukan dan apa kemampuan saya, tapi orang lain punya bayangan yang tidak mengenakkan tentang saya. Saya harus belajar bersabar dan sekarang, pada akhirnya kita bisa sejajar."Jika ada yang patut disebut sebagai pahlawan dalam kehidupan Rob, mungkin Josephine Houben yang kini berusia 73 tahun akan menjadi kandidat utama. Kasih sayang dan pengabdiannya sebagai seorang ibu tidak perlu diragukan lagi. Kebesaran hati dan daya juang demi kesembuhan anaknya tidak terbantahkan.(Koran SI/Koran SI/jri) (detik.com, 24 nopember 2009)

Minggu, 08 November 2009

Dimana Ada Kemauan, Disitu Ada Jalan

Pak Awan ini adalah sepengal kisah perjuangnanku untuk bisa menikmati bangku kuliah, saya adalah lulusan SMK pada tahun 2001, yang tidak bisa lengsung melanjutkan studi karena bergabai faktor yang salah satu faktor utama adalah faktor ekonomi.
Setelah lulus sekolah menengah saya bekerja selama kurang lebih satu tahum di sebuah toko kelontong, setelah itu pada awal tahun 2002 saya diterima bekerja sebagai tenaga administrasi disuatu instansi di Yogyakarta, tahun 2003 saya bermaksud mengajukan ijin untuk melanjutkan studi kepada pihak manajemen, tapi dengan berbagai alasan terutama alasan kesehatan saya permohonan itu ditolak, saya kecewa tap cita-cita untuk melanjutkan studi tetap tersimpan dan saya yakin suatu saat pasti akan tercapai, tahun 2006 saya memperoleh posisi yang lumayan diinstansi itu, seriring dengan pergantian pimpinan mamajemen saya mencoba lagi untukmengajukan ijin untuk melajutkan studi, diluar dugaan saya ternyata kali ini menejemen meberikan ijin untuk menlanjutkan studi dengan syarat tidak mengganggu jam kerja saya,saat itulah saya memutuskan untuk melanjutkan di UMBY yang saat itu menawarkan kelas weekend ( sabtu,minggu ). Bulan pertama saya mulai menjalani kuliah terasa sangat bahagia, akhirnya saya bisa bekerja sambi kuliah, tapi bulan itu juga saat penerimaan insentif dari instansi saya bekerja ada satu point yang hilang dari slip gaji saya yang nilai nominalnya sangat berarti, setelah saya konfirmasi pihak manajeman menjawab bahwa hal ini terjadi karena saya telah diberhentikan dari posisi saya ( tanpa pemberitahuuan sebelumnya), dan point itu diberikan kepada teman saya yang saat itu diangkat sebagi pejabat sementara..seperti anak kecil yang diambil paksa mainannya tentu saya kecewa, tapi dengan itu saya jadkan cambuk semangat saya dan akan saya tunjukan kepada manajeman bahwa bisa menyelesaikan kuliah saya dengan gaji yang kurang dan saya tetap bisa melajutkan belajar tanpa mengurangi atau mengganggu jam bekerja.
Setelah semester demi semester saya lalui dan dengan tekat dan kesungguhan perjuangan dan dengan ijin ALLAH, sampai saat ini saya bisa menunjukkan kepada manajemen dan orang orang yang tidak yakin akan kemampuan saya, bahwa saya bisa menjalani bekerja sambil kuliah tanpa ada yang dirugikan salah satunya dan tanpa menurunkan kualitas dan kinerja kerja saya.
Satu yang mesti kita ingat temen temen bahwa dimana ada kemauan disitu ada jalan.
“where is a will there is a way “

Benang Merah Musibah dan Rahmat Allah

Assalamu'alaikum wr.wb.............Mungkin ceritaku ini bukanlah cerita yang murni tentang kepemimpinan.Ini sekedar sharing saja bahwa di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin.Berawal dari gempa besar yang mengguncang Yogya pada Mei 2006 silam perubahan dalam hidupku dimulai.Aku yang sejak lulus SMA 2001 ingin sekali melanjutkan kuliah,tapi karena keterbatasan biaya akhirnya aku urungkan niatku untuk kuliah.Tapi Allah Maha Tahu ,meskipun aku tidak bisa kuliah saat itu namun semangat dan keinginanku untuk kuliah masih membara dalam diriku.Hingga suatu saat...6 bulan pasca gempa itu ada satu lembaga pendidikan dan kepribadian di Yogya yang diberikan dana oleh pihak asing untuk memberikan pelatihan pada korban gempa di Jogja.Alhamdulillah.....aku mendapat kesempatan untuk belajar di sana,meskipun itu bukan pendidikan jenjang perguruan tinggi.Aku disana diajarkan berbagai macam ilmu ,mulai dididik tentang berkepribadian hingga diaajarkan pula tentang broadcast.Setelah aku belajar kurang lebih 6 bulan aku diberikan kesempatan magang di salah satu radio di Jogja.banyak sekali pengalaman waktu aku magang di radio,bertemu dengan orang2 besar seperti Sri Sultan,Menteri Kelautan,artis2 Indonesia dan luar negeri,yang hal2 itu tidak pernah terbayangkan sebelumnya.Singkat cerita setelah aku selesai magang,aku diajak oleh trainerku untuk ikut beliau memberikan kuliah di 2 universitas swasta di Jogjakarta.Awalnya aku sangat minder sekali karena aku sadar ilmuku sedikit sekali dan aku belum pernah merasakan duduk di bangku kuliah,tapi aku sudah dipercaya diminta untuk membantu beliau.Dan suatu ketika disaat Trainerku mendadak sakit, aku diberikan amanat untuk berbagi ilmu dengan mahasiswa sendirian.betapa kagetnya aku saat itu,kaget bukan karena senang tapi aku teramat sangat bingung,apa yang harus aku lakukan?Aku bukan anak kuliahan tapi aku hrs mengisi / memimpin kuliah 15 mahasiswa?Bagaimana aku menghadapi mahasiswa?Berbagai macam pertanyaan berkecamuk dalam pikiranku.Tapi sudah tidak ada waktu lagi untuk berpikir? Akhirnya dengan modal percaya diri,aku mulai masuk untuk sharing bukan mengisi kuliah.Yang aku sharingkan bukanlah teori tapi pengalaman2ku di lapangan yang telah aku alami selama ini.Meskipun waktu satu setengah jam itu bagiku terasa sehari,namun aku sangat bersyukur sekali aku dapat berbagi pengalaman dengan mahasiswa dan mereka pun sangat antusias.Aku sangat bersyukur sekali Allah memberikan aku kelancaran.Ternyata siapapun itu sebenarnya bisa menjadi seorang pemimpin walau dalam keadaan terpaksa. Ternyata ada benang merah antara musibah/sakit dengan Rahmat Allah.Inilah sepenggal cerita hidup saya semoga ada manfaatnya bukan madharat bagi teman2 yang membaca.Wassalamu'alaikum wr.wb.............

Jumat, 06 November 2009

Pesan Tersembunyi 'I Love You' dari Gadis Cilik Kanker Otak

Cincinnati, AS, Gadis cilik 6 tahun berhasil menyembunyikan catatan kecil yang dibuatnya selama 9 bulan ketika mengidap kanker otak. Catatan yang disembunyikan di hampir seluruh bagian rumahya itu baru ditemukan oleh keluarganya setelah sang gadis meninggal dunia.Elena Desserich didiagnosa kanker otak ketika usianya masih 5 tahun. Selama 9 bulan melawan penyakitnya, Elena menyembunyikan ratusan catatan kecil di setiap halaman buku, lemari, laci, tas, baju, sweater bahkan di tempat cuci piring.'I Love Grace', demikian catatan yang ditulis Grace kepada adik tersayangnya, seperti dikutip dari Dailymail, Sabtu (7/11/2009).Elena meninggal pada Agustus 2007, tapi orang tuanya, Keith (34 tahun) dan Brooke (35 tahun) serta adiknya, Grace yang berusia 5 tahun pada saat itu baru menemukan catatan dan gambar yang disembunyikan Elena baru-baru ini atau dua tahun setelah kematian Elena."Setelah dikumpulkan, ternyata catatan itu sudah terkumpul dalam tiga kotak besar," ujar Keith.Sekarang keluarga Elena berusaha mengumpulkan semua catatan dan gambar buatan Elena yang menyentuh itu dalam sebuah buku.Ketika Elena didiagnosa penyakit kanker otak pada tahun 2006, orang tuanya hanya diberitahu bahwa hidup Elena hanya tinggal 135 hari lagi. Dan sejak itu, setiap harinya orang tua Elena berusaha membuat momen spesial untuk Elena."Kami tidak ingin fokus pada penyakit kankernya, kami hanya ingin melakukan apapun yang Elena inginkan," ujar Keith.Keith dan Brooke tidak ingin Gracie, adik Elena melupakan kakaknya begitu saja, jadi mereka membuat sebuah jurnal khusus untuk mengenang Elena."Dia adalah gadis yang sangat bijak di usianya yang baru 6 tahun. Catatan-catatan itu adalah cara dia mengatakan pada kami bahwa segalanya akan baik-baik saja. Setiap kami menemukan tulisan itu, rasanya Elena seperti memeluk kami," ujar Keith.Meskipun Elena mendapatkan terapi radiasi tiap hari, tapi kondisinya justru tambah memburuk, bahkan sudah tidak bisa bicara lagi.Namun meski gadis kecil pemberani itu tidak bisa bicara lagi, ia tetap menyuarakan isi hatinya melalui sebuah tulisan. Kebanyakan tulisan yang disembunyikan Elena ditujukan untuk adiknya, Gracie. Tapi ia juga menuliskan untuk ibu, ayah, kakek dan anjing favoritnya, Sally.Beberapa tulisan 'I Love You' yang dibuat Elena juga diberi gambar hati dan bunga. Satu tulisan yang dibuat Elena, 'I Love You Gracie, Go Go' adalah catatan yang paling membuat Gracie semangat dan bangga mempunyai kakak seperti Elena.Catatan Elena yang sudah dibukukan rencananya akan disumbangkan pada the Cure Starts Now Cancer Foundation dan didedikasikan untuk menginspirasi semua penderita kanker di seluruh dunia. (Detik.com, 7 Nopember 2009)