Selasa, 24 November 2009
23 Tahun Koma dalam Kondisi Sadar
LIEGE - Kecelakaan mobil yang dialami Rob Houben pada 1983 mengubah seluruh jalan hidupnya. Saat itu dokter memvonisnya koma, tapi 23 tahun kemudian dia ditemukan dalam kondisi sadar.Selama 23 tahun itu Rob mengalami kondisi yang tidak mengenakkan. Dia tidak bisa bergerak dan sepanjang waktu hanya terus berbaring di atas ranjang. Namun dia beruntung, ibunya, Josephine Houben, tak pernah lelah mendampinginya.Rob masih berusia 20 tahun pada saat kecelakaan mobil pada 1983 itu menimpanya. Dokter yang merawatnya lalu memprediksi bahwa kesadarannya telah padam. Pemberitahuan ini bagai melumpuhkan persendian Josephine.Tidak ada satu pun ibu di dunia yang rela jika anaknya mendapat vonis demikian. Namun Josephine percaya, keajaiban akan datang pada waktunya, asalkan manusia berusaha. Tahun demi tahun keadaan Rob tidak juga membaik. Pemuda itu tetap terbaring lemah, bagai berada di dua dunia. Memandang putranya yang hanya bisa terbujur lelap di atas ranjang selama puluhan tahun tentu membuat siapa saja yang mengunjunginya merasa sedih.Namun Josephine tidak pernah sedetik pun mengabaikan Rob. Ibu luar biasa ini tetap setia di samping ranjang anaknya, sambil mengupayakan hal-hal yang sekiranya mampu mengembalikan kondisi anaknya seperti sedia kala. Josephine percaya, jika seseorang memiliki keyakinan, maka dia akan menemukan jalan terbaik atas semua masalahnya.Selama puluhan tahun Josephine dan suaminya selalu menanam harapan bagi kesembuhan Rob. Setiap hari Josephine selalu mengajak Rob bicara. Walaupun yang tersedia hanya komunikasi satu arah, Josephine yakin anaknya bisa mendengar setiap kata yang dia bisikkan pelan-pelan di sampingnya. Dia memperlakukan Rob seperti layaknya manusia normal yang tidak didera sakit apa pun.Jika waktu makan tiba, Josephine akan dengan senang hati dan penuh kesabaran menyuapi Rob. "Kami mencoba memberikan kehidupan yang normal bagi Rob," paparnya.Selama terbaring di atas ranjang Rob tidak pernah membuka mata. Dia seperti bayi yang lelap dalam tidur panjangnya. Pada 1997 ayah Rob meninggal dunia. Josephine berlari ke rumah sakit untuk memberitahukan kabar duka cita ini kepada Rob. Dia berbicara dengan hati-hati, karena tidak ingin kondisi Rob semakin parah."Rob menutup matanya. Tidak ada satu tetes air mata mengalir dari kelopak matanya. Tapi saya tahu, dia mengerti," ujar Josephine.Kesetiaan dan kekuatan hati Josephine yang telah teruji selama 23 tahun menemukan keajaiban. Tiga tahun lalu, alat pemindai berteknologi canggih menunjukkan adanya aktivitas pada saraf otak Rob.Orang pertama yang paling bahagia tentulah Josephine. Inilah keajaiban yang sangat dinantikannya selama puluhan tahun. Ibu yang kini berusia 73 tahun ini segera memindahkan Rob ke sebuah pusat perawatan penyakit khusus di Zolder, Belgia. Kebahagiaan Josephine kian bertambah ketika Rob mulai bisa berkomunikasi dengan bantuan komputer.Suatu hari Josephine membaca sebuah kalimat di monitor komputer Rob. Pesan ini berbunyi, "Ibu, maafkan aku karena tidak bisa mendampingi ibu ketika ayah meninggal."Walau peristiwa kematian suaminya telah lama berlalu, namun pesan ini memberikan penjelasan baru bagi Josephine. Keyakinan tak terbantahkan bahwa Rob bisa mendengar dan merasakan selama terbaring koma, ternyata benar adanya.Kemajuan Rob semakin signifikan. Dia mulai rajin menulis pesan lewat komputer khususnya. "Saya ingin membaca dan berbicara tentang apa saja dengan teman-temanku. Saya ingin melakukan berbagai hal, sehingga orang-orang tahu bahwa saya tidak mati. Saya masih hidup," tulisnya.Rob mengaku tidak pernah menyalahkan siapa pun atas kondisi memprihatinkan yang pernah dijalaninya selama puluhan tahun. Baginya, berada dalam kondisi koma selama 23 tahun hanyalah bagian kecil dari sebuah pertunjukan drama yang panjang. Rob mengaku, awalnya dia marah atas ketidak berdayaannya, tapi akhirnya belajar hidup dengan kondisinya."Orang lain boleh punya pendapat tentang saya," ujar Rob, kini berusia 46 tahun, kepada BBC. "Saya tahu apa yang bisa saya lakukan dan apa kemampuan saya, tapi orang lain punya bayangan yang tidak mengenakkan tentang saya. Saya harus belajar bersabar dan sekarang, pada akhirnya kita bisa sejajar."Jika ada yang patut disebut sebagai pahlawan dalam kehidupan Rob, mungkin Josephine Houben yang kini berusia 73 tahun akan menjadi kandidat utama. Kasih sayang dan pengabdiannya sebagai seorang ibu tidak perlu diragukan lagi. Kebesaran hati dan daya juang demi kesembuhan anaknya tidak terbantahkan.(Koran SI/Koran SI/jri) (detik.com, 24 nopember 2009)
Minggu, 08 November 2009
Dimana Ada Kemauan, Disitu Ada Jalan
Pak Awan ini adalah sepengal kisah perjuangnanku untuk bisa menikmati bangku kuliah, saya adalah lulusan SMK pada tahun 2001, yang tidak bisa lengsung melanjutkan studi karena bergabai faktor yang salah satu faktor utama adalah faktor ekonomi.
Setelah lulus sekolah menengah saya bekerja selama kurang lebih satu tahum di sebuah toko kelontong, setelah itu pada awal tahun 2002 saya diterima bekerja sebagai tenaga administrasi disuatu instansi di Yogyakarta, tahun 2003 saya bermaksud mengajukan ijin untuk melanjutkan studi kepada pihak manajemen, tapi dengan berbagai alasan terutama alasan kesehatan saya permohonan itu ditolak, saya kecewa tap cita-cita untuk melanjutkan studi tetap tersimpan dan saya yakin suatu saat pasti akan tercapai, tahun 2006 saya memperoleh posisi yang lumayan diinstansi itu, seriring dengan pergantian pimpinan mamajemen saya mencoba lagi untukmengajukan ijin untuk melajutkan studi, diluar dugaan saya ternyata kali ini menejemen meberikan ijin untuk menlanjutkan studi dengan syarat tidak mengganggu jam kerja saya,saat itulah saya memutuskan untuk melanjutkan di UMBY yang saat itu menawarkan kelas weekend ( sabtu,minggu ). Bulan pertama saya mulai menjalani kuliah terasa sangat bahagia, akhirnya saya bisa bekerja sambi kuliah, tapi bulan itu juga saat penerimaan insentif dari instansi saya bekerja ada satu point yang hilang dari slip gaji saya yang nilai nominalnya sangat berarti, setelah saya konfirmasi pihak manajeman menjawab bahwa hal ini terjadi karena saya telah diberhentikan dari posisi saya ( tanpa pemberitahuuan sebelumnya), dan point itu diberikan kepada teman saya yang saat itu diangkat sebagi pejabat sementara..seperti anak kecil yang diambil paksa mainannya tentu saya kecewa, tapi dengan itu saya jadkan cambuk semangat saya dan akan saya tunjukan kepada manajeman bahwa bisa menyelesaikan kuliah saya dengan gaji yang kurang dan saya tetap bisa melajutkan belajar tanpa mengurangi atau mengganggu jam bekerja.
Setelah semester demi semester saya lalui dan dengan tekat dan kesungguhan perjuangan dan dengan ijin ALLAH, sampai saat ini saya bisa menunjukkan kepada manajemen dan orang orang yang tidak yakin akan kemampuan saya, bahwa saya bisa menjalani bekerja sambil kuliah tanpa ada yang dirugikan salah satunya dan tanpa menurunkan kualitas dan kinerja kerja saya.
Satu yang mesti kita ingat temen temen bahwa dimana ada kemauan disitu ada jalan.
“where is a will there is a way “
Setelah lulus sekolah menengah saya bekerja selama kurang lebih satu tahum di sebuah toko kelontong, setelah itu pada awal tahun 2002 saya diterima bekerja sebagai tenaga administrasi disuatu instansi di Yogyakarta, tahun 2003 saya bermaksud mengajukan ijin untuk melanjutkan studi kepada pihak manajemen, tapi dengan berbagai alasan terutama alasan kesehatan saya permohonan itu ditolak, saya kecewa tap cita-cita untuk melanjutkan studi tetap tersimpan dan saya yakin suatu saat pasti akan tercapai, tahun 2006 saya memperoleh posisi yang lumayan diinstansi itu, seriring dengan pergantian pimpinan mamajemen saya mencoba lagi untukmengajukan ijin untuk melajutkan studi, diluar dugaan saya ternyata kali ini menejemen meberikan ijin untuk menlanjutkan studi dengan syarat tidak mengganggu jam kerja saya,saat itulah saya memutuskan untuk melanjutkan di UMBY yang saat itu menawarkan kelas weekend ( sabtu,minggu ). Bulan pertama saya mulai menjalani kuliah terasa sangat bahagia, akhirnya saya bisa bekerja sambi kuliah, tapi bulan itu juga saat penerimaan insentif dari instansi saya bekerja ada satu point yang hilang dari slip gaji saya yang nilai nominalnya sangat berarti, setelah saya konfirmasi pihak manajeman menjawab bahwa hal ini terjadi karena saya telah diberhentikan dari posisi saya ( tanpa pemberitahuuan sebelumnya), dan point itu diberikan kepada teman saya yang saat itu diangkat sebagi pejabat sementara..seperti anak kecil yang diambil paksa mainannya tentu saya kecewa, tapi dengan itu saya jadkan cambuk semangat saya dan akan saya tunjukan kepada manajeman bahwa bisa menyelesaikan kuliah saya dengan gaji yang kurang dan saya tetap bisa melajutkan belajar tanpa mengurangi atau mengganggu jam bekerja.
Setelah semester demi semester saya lalui dan dengan tekat dan kesungguhan perjuangan dan dengan ijin ALLAH, sampai saat ini saya bisa menunjukkan kepada manajemen dan orang orang yang tidak yakin akan kemampuan saya, bahwa saya bisa menjalani bekerja sambil kuliah tanpa ada yang dirugikan salah satunya dan tanpa menurunkan kualitas dan kinerja kerja saya.
Satu yang mesti kita ingat temen temen bahwa dimana ada kemauan disitu ada jalan.
“where is a will there is a way “
Benang Merah Musibah dan Rahmat Allah
Assalamu'alaikum wr.wb.............Mungkin ceritaku ini bukanlah cerita yang murni tentang kepemimpinan.Ini sekedar sharing saja bahwa di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin.Berawal dari gempa besar yang mengguncang Yogya pada Mei 2006 silam perubahan dalam hidupku dimulai.Aku yang sejak lulus SMA 2001 ingin sekali melanjutkan kuliah,tapi karena keterbatasan biaya akhirnya aku urungkan niatku untuk kuliah.Tapi Allah Maha Tahu ,meskipun aku tidak bisa kuliah saat itu namun semangat dan keinginanku untuk kuliah masih membara dalam diriku.Hingga suatu saat...6 bulan pasca gempa itu ada satu lembaga pendidikan dan kepribadian di Yogya yang diberikan dana oleh pihak asing untuk memberikan pelatihan pada korban gempa di Jogja.Alhamdulillah.....aku mendapat kesempatan untuk belajar di sana,meskipun itu bukan pendidikan jenjang perguruan tinggi.Aku disana diajarkan berbagai macam ilmu ,mulai dididik tentang berkepribadian hingga diaajarkan pula tentang broadcast.Setelah aku belajar kurang lebih 6 bulan aku diberikan kesempatan magang di salah satu radio di Jogja.banyak sekali pengalaman waktu aku magang di radio,bertemu dengan orang2 besar seperti Sri Sultan,Menteri Kelautan,artis2 Indonesia dan luar negeri,yang hal2 itu tidak pernah terbayangkan sebelumnya.Singkat cerita setelah aku selesai magang,aku diajak oleh trainerku untuk ikut beliau memberikan kuliah di 2 universitas swasta di Jogjakarta.Awalnya aku sangat minder sekali karena aku sadar ilmuku sedikit sekali dan aku belum pernah merasakan duduk di bangku kuliah,tapi aku sudah dipercaya diminta untuk membantu beliau.Dan suatu ketika disaat Trainerku mendadak sakit, aku diberikan amanat untuk berbagi ilmu dengan mahasiswa sendirian.betapa kagetnya aku saat itu,kaget bukan karena senang tapi aku teramat sangat bingung,apa yang harus aku lakukan?Aku bukan anak kuliahan tapi aku hrs mengisi / memimpin kuliah 15 mahasiswa?Bagaimana aku menghadapi mahasiswa?Berbagai macam pertanyaan berkecamuk dalam pikiranku.Tapi sudah tidak ada waktu lagi untuk berpikir? Akhirnya dengan modal percaya diri,aku mulai masuk untuk sharing bukan mengisi kuliah.Yang aku sharingkan bukanlah teori tapi pengalaman2ku di lapangan yang telah aku alami selama ini.Meskipun waktu satu setengah jam itu bagiku terasa sehari,namun aku sangat bersyukur sekali aku dapat berbagi pengalaman dengan mahasiswa dan mereka pun sangat antusias.Aku sangat bersyukur sekali Allah memberikan aku kelancaran.Ternyata siapapun itu sebenarnya bisa menjadi seorang pemimpin walau dalam keadaan terpaksa. Ternyata ada benang merah antara musibah/sakit dengan Rahmat Allah.Inilah sepenggal cerita hidup saya semoga ada manfaatnya bukan madharat bagi teman2 yang membaca.Wassalamu'alaikum wr.wb.............
Jumat, 06 November 2009
Pesan Tersembunyi 'I Love You' dari Gadis Cilik Kanker Otak
Cincinnati, AS, Gadis cilik 6 tahun berhasil menyembunyikan catatan kecil yang dibuatnya selama 9 bulan ketika mengidap kanker otak. Catatan yang disembunyikan di hampir seluruh bagian rumahya itu baru ditemukan oleh keluarganya setelah sang gadis meninggal dunia.Elena Desserich didiagnosa kanker otak ketika usianya masih 5 tahun. Selama 9 bulan melawan penyakitnya, Elena menyembunyikan ratusan catatan kecil di setiap halaman buku, lemari, laci, tas, baju, sweater bahkan di tempat cuci piring.'I Love Grace', demikian catatan yang ditulis Grace kepada adik tersayangnya, seperti dikutip dari Dailymail, Sabtu (7/11/2009).Elena meninggal pada Agustus 2007, tapi orang tuanya, Keith (34 tahun) dan Brooke (35 tahun) serta adiknya, Grace yang berusia 5 tahun pada saat itu baru menemukan catatan dan gambar yang disembunyikan Elena baru-baru ini atau dua tahun setelah kematian Elena."Setelah dikumpulkan, ternyata catatan itu sudah terkumpul dalam tiga kotak besar," ujar Keith.Sekarang keluarga Elena berusaha mengumpulkan semua catatan dan gambar buatan Elena yang menyentuh itu dalam sebuah buku.Ketika Elena didiagnosa penyakit kanker otak pada tahun 2006, orang tuanya hanya diberitahu bahwa hidup Elena hanya tinggal 135 hari lagi. Dan sejak itu, setiap harinya orang tua Elena berusaha membuat momen spesial untuk Elena."Kami tidak ingin fokus pada penyakit kankernya, kami hanya ingin melakukan apapun yang Elena inginkan," ujar Keith.Keith dan Brooke tidak ingin Gracie, adik Elena melupakan kakaknya begitu saja, jadi mereka membuat sebuah jurnal khusus untuk mengenang Elena."Dia adalah gadis yang sangat bijak di usianya yang baru 6 tahun. Catatan-catatan itu adalah cara dia mengatakan pada kami bahwa segalanya akan baik-baik saja. Setiap kami menemukan tulisan itu, rasanya Elena seperti memeluk kami," ujar Keith.Meskipun Elena mendapatkan terapi radiasi tiap hari, tapi kondisinya justru tambah memburuk, bahkan sudah tidak bisa bicara lagi.Namun meski gadis kecil pemberani itu tidak bisa bicara lagi, ia tetap menyuarakan isi hatinya melalui sebuah tulisan. Kebanyakan tulisan yang disembunyikan Elena ditujukan untuk adiknya, Gracie. Tapi ia juga menuliskan untuk ibu, ayah, kakek dan anjing favoritnya, Sally.Beberapa tulisan 'I Love You' yang dibuat Elena juga diberi gambar hati dan bunga. Satu tulisan yang dibuat Elena, 'I Love You Gracie, Go Go' adalah catatan yang paling membuat Gracie semangat dan bangga mempunyai kakak seperti Elena.Catatan Elena yang sudah dibukukan rencananya akan disumbangkan pada the Cure Starts Now Cancer Foundation dan didedikasikan untuk menginspirasi semua penderita kanker di seluruh dunia. (Detik.com, 7 Nopember 2009)
Senin, 26 Oktober 2009
PEMIMPIN SEJATI
Sebelum saya berumahtangga, ada banyak pengalaman menjadi seorang pemimpin di dalam lingkungan terdekat saya.Sebagai anak yang dilahirkan paling besar, maka saya sudah menjadi pemimpin bagi kedua adik saya. Semasa kami hidup bersama, saya menjadi contoh dan teladan bagi mereka. bagaimana mendapatkan nilai yang bagus di sekolah, bagaimana bersikap terhadap orang-orang yang dewasa, ataupun bagaimana berskap terhadap orang yang tidak kita kenal..Didalam lingkungan sekolah, saya pernah di tunjuk sebagai ketua panitia penyelenggara acara atau event2 tertentu.. di dalamnya saya bertanggung jawab penuh untuk kesuksesan penyelenggaraan event tersebut.Ataupun di dalam lingkungan kerohaniwan. Sebagai seorang Nasrani, saya juga pernah dipilih sebagai Ketua tim dana didalam suatu event.. dimana saya juga bertanggungjawab akan terselenggaranya acara tersebut dengan sebaik2nya..Setelah saya berumahtangga, menjadi seorang ibu bagi anak saya, maka saya menjadi pemimpin bagi mereka.. bagaimana saya harus mengajarkan nilai2 kebaikan sejak dini. memberikan teladan akan pentingnya memberi daripada meminta.. Memberikan contoh kebiasaan yang baik dirumah, dan tata nilai yang lain yang dapat membuat anak2 saya kelak menjadi pemimpin yang juga bisa menjadi teladanDan inilah, sepanjang hidup saya menjadi pemimpin yang paling MULIA. Karena Allah Yang Maha Kuasa telah memberikan amanat untuk saya bisa menjadi teladan bagi anak2 saya..
Kriteria Pemimpin itu Kondisional?
Pagi ini, tanpa sengaja saya membereskan berkas berkas di lemari buku. Dan saya menemukan beberapa lembar kertas cetakan yang isinya testimoni dari teman-teman saya yang saya cetak dari friendster sekitar tahun 2005 sampai 2007. Isinya kurang lebih sama tentang siapa saya pada waktu itu. Salah satunya mereka mengatakan bahwa saya itu kreatif , suka jalan-jalan, karyanya banyak, jadi penyiar, pecinta alam, ikut FLP, teater, ngemsi, dan…narsis. Kata-kata terakhir ini yang sedikit membuat saya tersenyum yang juga mengiyakan. Mau tidak mau testimony itu membawa saya kedalam pusaran waktu pada waktu itu. Ya, pada waktu itu, sekitar tahun 2003 sampai 2006 saya memang merasa cukup bersemangat untuk melakukan banyak hal. Bahkan pada tahun 2004 saya pernah beberapa bulan bekerja pada 3 jenis pekerjaan yang berbeda sekaligus. Pekerjaan utama saya sebagai lulusan STAN Jakarta yaitu sebagai pegawai negeri di salah satu kantor di Departemen Keuangan,. Pada waktu bersamaan saya juga bekerja di sebuah radio swasta di kota tempat saya tinggal pada waktu itu, sebagai penyiar sekaligus produser beberapa acara di radio itu. Juga di beberapa hari dalam seminggu bekerja di sebuah studio foto di bagian design yang tugasnya edit mengedit foto. Pada waktu itu saya merasakan saat-saat dimana saya benar benar memaksimalkan diri saya. Yang secara tidak langsung saya berusaha memimpin diri saya untuk menjadi “seseorang” dengan melakukan banyak hal. Banyak hal yang sudah saya lakukan, tapi saya selalu merasa bahwa saya adalah orang yang bukan bertipe seorang pemimpin, dan saya merasa lebih sebagai orang yang bertipe pekerja. Walaupun beberapa kali saya terposisikan sebagi seorang pemimpin, saya merasa posisi itu saya dapatkan dengan alasan yang berbeda beda tiap kondisinya atau seperti yang saya maksud dengan disesuaikan dengan kondisi.
Sebagai contoh, tahun 2000, saya sempat menjadi Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) untuk wilayah Nusa Tenggara Barat. FLP ini adalah forumnya para penulis muda yang pada waktu itu diketuai oleh Helvy Tiana Rosa. Pada waktu itu, saya mendaftar sebagai anggota FLP dengan maksud untuk mencari komunitas penulis karena saya juga hobby menulis. Kebetulan waktu itu dari wilayah NTB ,dimana saya tinggal pada waktu itu, perwakilan di daerah tersebut belum dibentuk. Entah dengan alasan apa, formulir pendaftaran yang saya kirim ke pusat FLP di Jakarta malah dikembalikan lagi dan disertai formulir formulir teman lain yang berasal dari seluruh wilayah NTB. Dan dalam kiriman balik itu ada surat yang kurang lebih mengatakan saya diminta untuk mengkoordinir teman-teman dari NTB yang tergabung dalam FLP. Beberapa hari setelah itu juga Helvy Tiana Rosa menghubungi saya dan menjelaskan lebih detail isi surat tersebut. Saya sempat syok, dengan kejadian ini. Saya yang bukan siapa-siapa ditelpon langsung oleh seorang penulis besar. Wow. Saya sempat menanyakan kenapa saya yang ditunjuk, dan beliau menjawab dengan enteng, karena saya adalah satu-satunya anggota laki-laki untuk wilayah NTB. Berarti kurang lebihnya saya ditunjuk karena laki-lakinya. Padahal penulis banyak juga yang laki-laki. Apapun itu akhirnya saya berusaha menjalankan apa yang sudah beliau amanatkan sampai tahun berikutnya terpilih kembali sampai tahun 2002 dimana saya harus pindah ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah. Jadi saya merasa jadi pemimpin pada waktu itu karena saya laki-laki.
Contoh lain lagi, ketika saya di radio saya ditunjuk untuk memimpin teman-teman penyiar. Dan disini saya ditunjuk dengan alasan karena saya lebih baik secara materi dibanding dengan yang lain. Ini karena saya selain bekerja di radio juga sebagai pegawai Departemen Keuangan. Sementara teman-teman penyiar lain hanya berprofesi sebagai penyiar saja. Bahkan masih ada yang berstatus pelajar dan mahasiswa. Dan kondisi radio pada waktu itu tidak terlalu baik dari segi keuangan. Bukan saya membantu secara materiil disini, tapi saya ditunjuk untuk memimpin teman-teman penyiar karena dalam kondisi keuangan radio yang kurang begitu menjanjikan, yang berpengaruh ke pendapatan para karyawan dibutuhkan orang yang menjadi karyawan di radio tersebut bukan semata-mata untuk mendapatkan penghasilan dari situ sebagai motivator. Disitulah saya berusaha membagi semangat dengan penyiar-penyiar lain dengan menekankan bekerja secara ikhlas. Sedikit berhasil memang, padahal kalau saja saya dalam posisi mereka, belum tentu bisa sehebat mereka dalam hal ikhlas bekerja.
Satu lagi pengalaman yang semakin membuat saya menyimpulkan sendiri tentang kriteria pemimpin itu kondisional, adalah saya pernah diposisikan menjadi pemimpin karena lebih tua. Hobby saya yang lain adalah travelling. Beberapa kali travelling bersama beberapa teman, saya selalu ditunjuk sebagai pemimpin perjalanan. Memang yang ini tidak formal. Tapi itulah yang terjadi, karena dalam sebuah perjalanan mau tidak mau membutuhkan seorang pengambil keputusan terutama disaat saat menemui sebuah permasalahan, tersesat misalnya. Dan disini saya sebenarnya sering dibilang sok tau jalan. Walaupun tetap saja teman-temen selalu menyuruh saya yang mengambil keputusan atau jurus terakhir bertanya kepada orang yang ada di lokasi perjalan itu. Mereka bilang, yang paling tua lah yang layak untuk melakukan itu.
Dari beberapa pengalaman saya terposisikan sebagai pemimpin, saya menyimpulkan, kriteria untuk menjadi pemimpin itu tergantung kondisi. Dimana kondisi yang satu belum tentu sama dengan kondisi yang lain. Yang berarti pula kriteria pemimpinnya juga berbeda untuk kondisi yang satu dengan kondisi yang lain. Apakah kesimpulan saya itu bisa dibenarkan? Saya belum menemukan teori tentang itu.(707)
…………………………………………………………………………………………
Sebagai contoh, tahun 2000, saya sempat menjadi Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) untuk wilayah Nusa Tenggara Barat. FLP ini adalah forumnya para penulis muda yang pada waktu itu diketuai oleh Helvy Tiana Rosa. Pada waktu itu, saya mendaftar sebagai anggota FLP dengan maksud untuk mencari komunitas penulis karena saya juga hobby menulis. Kebetulan waktu itu dari wilayah NTB ,dimana saya tinggal pada waktu itu, perwakilan di daerah tersebut belum dibentuk. Entah dengan alasan apa, formulir pendaftaran yang saya kirim ke pusat FLP di Jakarta malah dikembalikan lagi dan disertai formulir formulir teman lain yang berasal dari seluruh wilayah NTB. Dan dalam kiriman balik itu ada surat yang kurang lebih mengatakan saya diminta untuk mengkoordinir teman-teman dari NTB yang tergabung dalam FLP. Beberapa hari setelah itu juga Helvy Tiana Rosa menghubungi saya dan menjelaskan lebih detail isi surat tersebut. Saya sempat syok, dengan kejadian ini. Saya yang bukan siapa-siapa ditelpon langsung oleh seorang penulis besar. Wow. Saya sempat menanyakan kenapa saya yang ditunjuk, dan beliau menjawab dengan enteng, karena saya adalah satu-satunya anggota laki-laki untuk wilayah NTB. Berarti kurang lebihnya saya ditunjuk karena laki-lakinya. Padahal penulis banyak juga yang laki-laki. Apapun itu akhirnya saya berusaha menjalankan apa yang sudah beliau amanatkan sampai tahun berikutnya terpilih kembali sampai tahun 2002 dimana saya harus pindah ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah. Jadi saya merasa jadi pemimpin pada waktu itu karena saya laki-laki.
Contoh lain lagi, ketika saya di radio saya ditunjuk untuk memimpin teman-teman penyiar. Dan disini saya ditunjuk dengan alasan karena saya lebih baik secara materi dibanding dengan yang lain. Ini karena saya selain bekerja di radio juga sebagai pegawai Departemen Keuangan. Sementara teman-teman penyiar lain hanya berprofesi sebagai penyiar saja. Bahkan masih ada yang berstatus pelajar dan mahasiswa. Dan kondisi radio pada waktu itu tidak terlalu baik dari segi keuangan. Bukan saya membantu secara materiil disini, tapi saya ditunjuk untuk memimpin teman-teman penyiar karena dalam kondisi keuangan radio yang kurang begitu menjanjikan, yang berpengaruh ke pendapatan para karyawan dibutuhkan orang yang menjadi karyawan di radio tersebut bukan semata-mata untuk mendapatkan penghasilan dari situ sebagai motivator. Disitulah saya berusaha membagi semangat dengan penyiar-penyiar lain dengan menekankan bekerja secara ikhlas. Sedikit berhasil memang, padahal kalau saja saya dalam posisi mereka, belum tentu bisa sehebat mereka dalam hal ikhlas bekerja.
Satu lagi pengalaman yang semakin membuat saya menyimpulkan sendiri tentang kriteria pemimpin itu kondisional, adalah saya pernah diposisikan menjadi pemimpin karena lebih tua. Hobby saya yang lain adalah travelling. Beberapa kali travelling bersama beberapa teman, saya selalu ditunjuk sebagai pemimpin perjalanan. Memang yang ini tidak formal. Tapi itulah yang terjadi, karena dalam sebuah perjalanan mau tidak mau membutuhkan seorang pengambil keputusan terutama disaat saat menemui sebuah permasalahan, tersesat misalnya. Dan disini saya sebenarnya sering dibilang sok tau jalan. Walaupun tetap saja teman-temen selalu menyuruh saya yang mengambil keputusan atau jurus terakhir bertanya kepada orang yang ada di lokasi perjalan itu. Mereka bilang, yang paling tua lah yang layak untuk melakukan itu.
Dari beberapa pengalaman saya terposisikan sebagai pemimpin, saya menyimpulkan, kriteria untuk menjadi pemimpin itu tergantung kondisi. Dimana kondisi yang satu belum tentu sama dengan kondisi yang lain. Yang berarti pula kriteria pemimpinnya juga berbeda untuk kondisi yang satu dengan kondisi yang lain. Apakah kesimpulan saya itu bisa dibenarkan? Saya belum menemukan teori tentang itu.(707)
…………………………………………………………………………………………
To Be Better And Make Others Better
Saya memiliki minat yang sangat besar dalam mempelajari teknologi pikiran (mind technology). Dan tulisan ini adalah sekelumit kisah kehidupan saya.
Saya lahir di kota Padang, Sumatera Barat pada tanggal 12 Juli 1984. Walaupun lahir di Padang, saya bukanlah murni keturunan orang Padang. Ayah dan ibu saya adalah keturunan Jawa yang sejak kecil sudah pindah dan menetap di daerah Sumatera Utara. Ketika beranjak dewasa ayah dan ibu saya pindah ke kota Padang dan akhirnya menetap di sana selama lebih dari 25 tahun. Saya sendiri hanya tinggal selama 8 tahun di Padang, kemudian pindah ke Nunukan (Kalimantan Timur) dan menetap di sana selama 6 tahun. Selepas lulus SMP kami sekeluarga pindah lagi ke Samarinda, ibukota Kalimantan Timur, dan setelah lulus SMA saya merantau ke Jogjakarta untuk kuliah. Dan di Jogja inilah petualangan kehidupan saya yang sebenarnya dimulai.
Hasil SPMB menempatkan saya sebagai mahasiswa jurusan Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada (UGM), sebuah pilihan yang tidak 100% saya inginkan karena sejak kelas 2 SMA saya sudah memiliki minat yang besar pada bidang psikologi. Dan saya akui salah satu faktor saya memilih jurusan Teknik Fisika adalah karena mental minder yang masih ada pada diri saya.
Hermawan kecil adalah seorang anak yang meraih prestasi bagus di sekolah (akademik) namun ia bukanlah anak yang percaya diri. Dan hal ini masih berpengaruh ketka saya lulus SMA dan melanjutkan kuliah. Saya belum punya tujuan hidup yang jelas.
Semasa kuliah saya banyak belajar dari teman-teman dan kegiatan yang saya ikuti. Dari semua pengalaman itu saya tersadar bahwa saya harus punya tujuan dalam hidup ini, dan saya harus berjuang untuk mewujudkan impian tersebut. Namun hingga tahun ke 3 kuliah pun saya belum berhasil menentukan tujuan hidup saya. Saya masih menjalani semuanya apa adanya. Dan hal ini berlangsung cukup lama hingga beberapa tahun.
Perubahan besar terjadi di pertengahan tahun 2008. Ketika itu saya mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kaki kiri saya patah. Ketika masa pemulihan itulah, saya banyak belajar melalui bacaan-bacaan dan saya menemukan satu bidang yang sangat menarik minat saya, yaitu teknologi pikiran (mind technology). Sebuah bidang di mana saya merasa mampu mengembangkan potensi yang saya miliki, sekaligus mampu memberikan kontribusi bagi orang banyak. Dan mulai saat itulah saya mencari dan mendalami teknik-teknik seperti NLP (Neuro Linguistic Programming), Hypnosis dan Hypnotherapy, EFT (Emotional Freedom Therapy), dan berbagai hal lain yang berhubungan dengan pengembangan kemampuan berpikir.
Saat ini saya berkecimpung dalam dunia pelatihan, terutama pelatihan cara belajar dan teknik menghafal cepat. Dari jalur inilah saya terus belajar dan mengasah kemampuan saya dalam berpikir dan berkontribusi bagi orang lain. Dan dari sini pulalah saya mulai merancang skenario kehidupan yang akan saya jalani.
Rancangan kehidupan itu pulalah yang membuat saya memutuskan untuk mendaftar kuliah lagi di Psikologi Universitas Mercu Buana. Saya memutuskan untuk kuliah baru, meninggalkan kuliah lama saya, demi sebuah keyakinan bahwa saya harus menjalani hidup sesuai dengan passion saya. Karena dengan begitu saya akan mampu mengeluarkan kemampuan terbaik yang ada dalam diri saya, dan yang terpenting adalah saya akan mampu berkontribusi lebih banyak bagi orang lain. Untuk menjadikan diri saya lebih baik, dan untuk menjadikan orang lain lebih baik pula.
Saya lahir di kota Padang, Sumatera Barat pada tanggal 12 Juli 1984. Walaupun lahir di Padang, saya bukanlah murni keturunan orang Padang. Ayah dan ibu saya adalah keturunan Jawa yang sejak kecil sudah pindah dan menetap di daerah Sumatera Utara. Ketika beranjak dewasa ayah dan ibu saya pindah ke kota Padang dan akhirnya menetap di sana selama lebih dari 25 tahun. Saya sendiri hanya tinggal selama 8 tahun di Padang, kemudian pindah ke Nunukan (Kalimantan Timur) dan menetap di sana selama 6 tahun. Selepas lulus SMP kami sekeluarga pindah lagi ke Samarinda, ibukota Kalimantan Timur, dan setelah lulus SMA saya merantau ke Jogjakarta untuk kuliah. Dan di Jogja inilah petualangan kehidupan saya yang sebenarnya dimulai.
Hasil SPMB menempatkan saya sebagai mahasiswa jurusan Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada (UGM), sebuah pilihan yang tidak 100% saya inginkan karena sejak kelas 2 SMA saya sudah memiliki minat yang besar pada bidang psikologi. Dan saya akui salah satu faktor saya memilih jurusan Teknik Fisika adalah karena mental minder yang masih ada pada diri saya.
Hermawan kecil adalah seorang anak yang meraih prestasi bagus di sekolah (akademik) namun ia bukanlah anak yang percaya diri. Dan hal ini masih berpengaruh ketka saya lulus SMA dan melanjutkan kuliah. Saya belum punya tujuan hidup yang jelas.
Semasa kuliah saya banyak belajar dari teman-teman dan kegiatan yang saya ikuti. Dari semua pengalaman itu saya tersadar bahwa saya harus punya tujuan dalam hidup ini, dan saya harus berjuang untuk mewujudkan impian tersebut. Namun hingga tahun ke 3 kuliah pun saya belum berhasil menentukan tujuan hidup saya. Saya masih menjalani semuanya apa adanya. Dan hal ini berlangsung cukup lama hingga beberapa tahun.
Perubahan besar terjadi di pertengahan tahun 2008. Ketika itu saya mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kaki kiri saya patah. Ketika masa pemulihan itulah, saya banyak belajar melalui bacaan-bacaan dan saya menemukan satu bidang yang sangat menarik minat saya, yaitu teknologi pikiran (mind technology). Sebuah bidang di mana saya merasa mampu mengembangkan potensi yang saya miliki, sekaligus mampu memberikan kontribusi bagi orang banyak. Dan mulai saat itulah saya mencari dan mendalami teknik-teknik seperti NLP (Neuro Linguistic Programming), Hypnosis dan Hypnotherapy, EFT (Emotional Freedom Therapy), dan berbagai hal lain yang berhubungan dengan pengembangan kemampuan berpikir.
Saat ini saya berkecimpung dalam dunia pelatihan, terutama pelatihan cara belajar dan teknik menghafal cepat. Dari jalur inilah saya terus belajar dan mengasah kemampuan saya dalam berpikir dan berkontribusi bagi orang lain. Dan dari sini pulalah saya mulai merancang skenario kehidupan yang akan saya jalani.
Rancangan kehidupan itu pulalah yang membuat saya memutuskan untuk mendaftar kuliah lagi di Psikologi Universitas Mercu Buana. Saya memutuskan untuk kuliah baru, meninggalkan kuliah lama saya, demi sebuah keyakinan bahwa saya harus menjalani hidup sesuai dengan passion saya. Karena dengan begitu saya akan mampu mengeluarkan kemampuan terbaik yang ada dalam diri saya, dan yang terpenting adalah saya akan mampu berkontribusi lebih banyak bagi orang lain. Untuk menjadikan diri saya lebih baik, dan untuk menjadikan orang lain lebih baik pula.
PEMIMPIN YANG SAYA BANGGAKAN
Saya merupakan anak kedua dari 3 bersaudara, saya mempunyai seorang kakak laki-laki dan adik perempuan. Dari kecil kami sudah didik untuk bisa jadi anak yang berbakti pada orang tua dan agama. Orang tua kami selalu menyuruh agar kami selalu mengikuti kegiatan-kegiatan dikampung maupun dimasjid. Karena pengetahuan tentang agama yang masih kurang, maka sejak kecil kami dimasukkan ke TPA (Taman Pendidikan Al-qur’an). Dari kami bertiga kakak saya yang pengetahuan agamanya lebih. Dia selalu mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada dimasjid dan menjadi pengurus organisasi dimasjid. Sewaktu duduk dibangku SMK, kakak saya menjadi ketua pengajian remaja dimasjid. Waktu kepemimpinannya saya sangat bangga. Hal itu disebabkan, waktu dia menjabat TPA dikampung saya berjalan lebih baik dari pengurus sebelumnya, pesertanya banyak dan program-program yang dibuat pun bisa tercapai. Yang datang dipengajian remaja pun juga banyak. Bahkan kami tidak hanya mengikuti pengajian dikampung saja, kami sampai mengikuti pengajian gabungan se-kecamatan. Bukan hanya itu saja disetiap perayaan lebaran baik Idul Fitri maupun Idul Adha, masjid kami selalu juara 1 dalam lomba takbir keliling se-kecamatan. Namun, karena berjalannya waktu dan bertambahnya kegiatan. Pada saat memasuki kuliah kakak saya berhenti sebagai ketua remaja. Setelah kakak saya tidak menjabat semuanya berubah, TPA ditempat saya masih aktif tapi tidak sebaik dulu. Yang mengikuti pengajian remajapun sekarang agak berkurang. Sampai saat ini kakak saya masih ikut kegiatan-kegiatan dimasjid, namun tidak begitu aktif hanya sekedar membantu.
Kamis, 15 Oktober 2009
Kata Pemimpin (3): John F. Kennedy
Orang Cina menggunakan dua sapuan kuas untuk menulis kata ‘krisis’. Satu untuk kata ‘bahaya’ dan yang satu lagi untuk ‘kesempatan’. Dalam menghadapi suatu krisis, sadarlah akan bahaya yang ada, tapi jangan tutup mata terhadap kesempatan yang terbuka.
The Chinese use two brush strokes to write the word ‘crisis’. One brush stroke stands for danger; the other for opportunity. In a crisis, be aware of the danger-but recognize the opportunity.~
John F. Kennedy
The Chinese use two brush strokes to write the word ‘crisis’. One brush stroke stands for danger; the other for opportunity. In a crisis, be aware of the danger-but recognize the opportunity.~
John F. Kennedy
Rabu, 14 Oktober 2009
JANJI UNTUK MASA DEPAN (Ceritanya Kelas Kepemimpinan (19))
Saya dilahirkan dipangkalpinang bangka belitung tepatnya pada tanggal 20 desember 1990. dari kecil sampai saya selesai sma saya tinggal bersama orangtua saya dipangkalpinang. ayah saya seorang wirahusa dan ibi saya seorang ibu rumah tangga biasa. Saya sangat bersyukur memiliki orang tua seperti orang tau saya karena berawal dari sikap orangtua saya yang sangat displin mendidik anak-anak nya membawa dampak yang sangat baik bagi. Walaupun terkadang kami tidak suka atas perilaku orang tua kami.,dan dari hasil didikan orangtua kami,kakak saya yang pertama dari pertama dia masuk sekolah sampai dia lulus SMA dia selalu meraih peringkat 3 besar. Dan tadak lama dia lulus SMA, dia ditawarkan menjadi guru walaupun masih honor.
Kakak saya yang ke 2 juga dia dari SD sampai SMA menjadi atlet daerah kami, dan sering mengikuti kejurnas, alhasil dari semua lomba yang dia ikuti dia juga sering mendapat beasiswa dari pemerintah daerah. Tapi untuk saya sepertinya saya belum biasa sekarang membanggakan orangtua saya seperti kedua kakak saya karena saya menyadari bahwa selama ini saya selalu menghiraukan perintah orang tua saya. Dan mudahan-mudahan saya bias buat mereka bangga seperti kakak saya.
Kakak saya yang ke 2 juga dia dari SD sampai SMA menjadi atlet daerah kami, dan sering mengikuti kejurnas, alhasil dari semua lomba yang dia ikuti dia juga sering mendapat beasiswa dari pemerintah daerah. Tapi untuk saya sepertinya saya belum biasa sekarang membanggakan orangtua saya seperti kedua kakak saya karena saya menyadari bahwa selama ini saya selalu menghiraukan perintah orang tua saya. Dan mudahan-mudahan saya bias buat mereka bangga seperti kakak saya.
PANTANG SURUT MELANGKAH (Ceritanya Kelas Kepemimpinan (18))
Sejak saya berusia 10 tahun badan saya sudah bisa dibilang kegemukan. Seiring saya tumbuh dewasa saya mulai sadar bahwa kegemukan ini menghambat kelancaran perkembangan diri, penampilan, dan berbahaya bagi kesehatan, baik untuk masa sekarang ataupun yang akan datang. Contohnya mudah mengantuk, malas, lapar, dan lelah. Maka mulai tahun 2007 saya mulai mencoba untuk menguruskan badan. Berbagai cara dilakukan, berolahraga, puasa, dan menjalani diet. Sampai kurun waktu yang cukup lama, walaupun keringat sudah bercucuran, hasil tak kunjung diraih. Berat badan saya tetap sama saja, sekitar 87kg. Hingga tiba saat pada tahun 2008. Kebetulan beberapa bulan sebelum bulan puasa, tahap percobaan saya sampai pada tahap menahan nafsu makan. Saya menemukan sebuah artikel yang menulis tentang menu diet ekstrim menguruskan badan, ditulis bahwa nasi yang dimakan maksimal sekitar 100-150gram. Kemudian saya coba menimbang seberapa banyak kah nasi 100 gram itu, ternyata sedikit sekali! Pada awalnya saya sangat pesimis. Begitu saya coba ternyata juga sangat berat. Tetapi saya tidak kehilangan akal. Setiap setelah makan saya minum susu kedelai. Karena biasa akhirnya saya tahan juga tanp. Pada bulan ramadhan, sahur saya sedikit saja dan buka puasa tidak makan nasi. Bulan puasa inilah awal kekuatan saya untuk tidak makan nasi, karena mau tidak mau tiap hari kita harus menahan nafsu makan. Waktu lebaran pun makan saya secukupnya saja, walaupun banyak makanan yang menggugah selera. Setelah fase ini, kadang tidak makan nasi sehari pun saya kuat, hanya mengemilsayur-sayuran atau buah-buahan. Hasilpun mulai terlihat, berat badan saya terus menurun. Waktu terus berlalu, tak terasa awal 2009 saya menimbang berat badan saya..alhamdulillah..65kg. Diet saya berhasil lebih dari yang saya inginkan. Dari situ saya sadar bahwa tidak ada yang tidak mungkin asalkan kita berusaha dengan doa, niat yang tulus dan tekad yang bulat, sedikit demi sedikit hasil akan diraih. Selain ini saya juga berhasil berhenti merokok tiga tahun yang lalu. Dan yang saya peroleh sesungguhnya bukanlah berat badan saya yang berhasil turun 22kg atau berhenti merokok, tetapi saya belajar untuk mengendalikan hawa nafsu. Karena kalau kita menuruti nafsu tidak akan ada habisnya, mungkin yang habis malah kemampuan kita untuk menuruti nafsu tersebut. Sekian cerita dari saya, kurang lebihnya mohon maaf.Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
MENJADI ANAK BANGSA (Ceritanya Kelas Kepemimpinan (17))
saya lahir dan dibesarkan di kota Wates, Kulon Progo. Ini adalah cerita pengalaman pribadi saya tentang kepemimpinanSaya sekolah dari SD,SMP hingga SMU di kota asal saya. Hingga saat saya lulus saya melanjutkan study saya di salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Walaupun kemampuan akademik saya biasa saja namun saya menikmati setiap mata kuliah dan pergaulan saya di sana. Dalam waktu yang relatif singkat saya telah mempunyai banyak teman baik di kampus maupun di kost. Dan saya sangat senang akan hal itu.Waktu terasa berlalau begitu cepat hingga kemudian sekitar akhir semester 1 saya mendapatkan informasi tentang pendaftaran POLRI. Mulanya saya tidak begitu tertarik akan hal itu. Lalu sya meminta pendapat kepada teman-teman saya, beberapa diantara mereka menyarankan agar saya menyelesaikan kuliah saya terlebih dahulu. Dan di akhir minggu saat saya pulang ke rumahsaya menyampaikan informasi tersebut kepada kedua orang tua saya, sayapun menanyakan pendapat mereka tentang hal yang sama. Namun mereka tidak memberi jawaban yang pasti. Mereka berkata tentunya saya sudah dewasa dan dapat memilih mana yang terbaik bagi kehidupan saya. Dan mereka menyatakan akan mendukung sepenuhnya akan setiap keputusan yang saya ambil. Disitulah saya milai bingung. Namun saya juga mulai sadar inilah saatnya saya belajar untuk memimpin diri saya sendiri dan berani mengambil keputusan. Disatu sisi saya masih ingin banyak bergaul dengan teman-teman saya. Namun di sisi lain sayatidak ingin menyianyiakan kesempatan yang ada untuk menata masa depan saya. Akhirnya sayapun memutuskan untuk mendaftarkan diri saya sebagai anggota POLRI.Saat itulah saya terus melatih diri saya sendiri untuk persiapan menghadapi setiap test. Tahap demi tahap telah saya lalui dengan penuh perjuangan, dari mulai test fisik sampai akademik. Dan atas berkah dan rakhmat dari Alloh SWT saya dinyatakan lulus pada test terakhir. Tentu saja saya sangat bersyukur dan gembira, begitu pula dengan keluarga saya. Tetapi saya masih harus mengikuti pendidikan selama sekitar 6 bulan. Saat itulah dihati kecil saya ada sedikit perasaan sedih dan berat untuk jauh dari orang-orang yang saya sayangi. Namun saya menekankan kepada diri saya sendiri bahwa saya harus menerima semua itu sebagai sebuah resiko dari keputusan yang telah saya ambil.Setelah beberapa hari melakukan persiapan, kami semua yang dinyatakan lulus berangkat ke SPN Banyu Biru untuk mengikuti pendidikan. Di sana mental dan fisik kami benar-benar dilatih. Kedisiplinan dan ketegasan benar-benar diterapkan. Setiap pendidikan yang saya terima, membentuk jiwa dan pribadi saya menjadi disiplin dan tegas agar saya mampu untuk menjadi seorang pemimpin dimulai dari memimpin diri saya sendiri. Setelah lebih dari 5 bulan mengikuti pendidikan akhirnya berkat semangat usaha dan bantuan dari para pendidik di sana, sayapun dinyatakan lulus dan resmi dilantik sebagai anggota POLRI. Tentunya saya merasa sangat haru dan bangga. Dan sampai saat ini saya tak hentinya bersyukur atas hal tersebut. Saya sangat berbangga hati karena saya telah mampu menjadi pemimpin bagi diri saya sendiri dalam mengambil keputusan dan melakukan suatu hal yang bermanfaat bagi hidup dan masa depan saya. Sampai saat ini saya masih terus belajar untuk menjadi seoranganggota POLRI yang jujur dan tulus mengabdikan diri kepada Negara.
Senin, 12 Oktober 2009
LANGKAH2 KEPEMIMPINANKU (Ceritanya Kelas Kepemimpinan (16))
Saya di lahirkan di kota jogja. Keluarga saya adalah keluarga yang sederhana. Keluarga saya mulai hidup benar- benar dari nol. Tetapi keluarga saya selalu berusaha untuk selalu hidup yang lebih baik. Karena kesabaran dan kegigihan orang tua saya alhamdulillah mereka bisa menyekolahkan saya. Dulu saya berumur 4,5 tahun sudah mulai masuk sekolah. Saya duduk di bangku TK selama 2 tahun. Umur 6,5 tahun saya mulai masuk SD. Saya dulu sempat hampir tidak dinaikkan kelas karena saya dirasa masih terlalu muda oleh orang tua saya, tetapi karena guru saya berkata kalau saya sudah bisa mengikuti pelajarannya , akhirnya saya dinaikkan kekelas 2. Enam tahun berlalu saya lalui di sekolah dasar.
Saat saya masuk SMP, 2 hari sebelum melakukan ujian masuk SMP saya mendapatkan musibah. Tetapi saya menerimanya dengan sabar dan menjalani ujian dengan lancar. Akhirnya waktu pengumumanpun telah tiba dan sayapun langsung melihat penguman itu dan akhirnya saya bisa diterima di SMP yang saya inginkan. Saya bersyukur bisa masuk di SMP. Saya menjalani sekolah di SMP dengan penuh semangat, sampai akhirnya saya bisa ikut kejuaraan sepak takraw. Saya berjuang dengan teman- teman saya dan hasilnyapun sangat membanggakan bagi sekolah dan orang tua kami. Tiga tahun berlalu saya bersama teman –teman menjalani sekolah di SMP dan ujian akhirpun tiba. Saya saat itu juga mendapatkan cobaan, karena saat hari ketiga ujian saya jatuh sakit. Saya sangat kaget ketika melihat pengumuman karena hasilnya tidak memuaskan. Nilai mtematika saya hampir tidak memenuhi target. Tetapi saya masih bisa bersyukur karena saya bisa lulus.
Akhirnya, saya melanjutkan ke SMA. Saya mulai duduk dibangku kelas 1. Saya mulai memberanikan untuk menjadi atau mengikuti OSIS. Di kelas 1 ini saya hanya menjabat sebagai anggota dan bidang yang saya pegang adalah bidang olahraga. Nah, saat itu tibalah waktu akhir semester dan saya harus menyiapkan berbagai lomba ke olahragaan. Saya dituntut oleh guru pembimbing saya untuk bisa menjadi seorang pemimpin. Disitulah saya benar – benar mulai belajar sebagai seorang pemimpin. Saya juga pernah mengikuti seminar di SKB bantul selama 3 hari bersama 3 teman saya. Di situ saya bersama ketiga teman saya dibagi menjadi 3 kelompok dan kitapun ber jalan sendiri- sendiri. Disaat mengadakan diskusi saya mencoba selalu menjadi yang terbaik, itupun saya menuai hasil sehingga saya bisa memberi pengarahan kepada teman – teman saya di sekolah kami tentang kesehatan reproduksi yang saya dapat saat saya mengikuti seminar itu. Saat duduk di kelas 2, saya menjabat sebagai sekretaris di keanggotaan OSIS. Saya menjalankan tugas itu dengan baik dan lancar. Akhirnya saya melanjutkan ke bangku kelas 3 SMA.. Disaat awal masuk, kedua orang tua saya mengalami kesulitan ekonomi. Orang tua saya hanya bekerja wiraswasta. Saat itu saya sudah 5 bulan tidak dapat melunasi uang SPP saya. Saya berpikir bagaimana saya harus bisa melunasi tunggakan itu. Karena di tengah semester jika tidak melunasi saya tidak boleh mengikuti ujian semester. Saya sudah bingung dan takut kalau sampai tidak bisa mengikuti ujian itu. Akhirnya saya berpikir bagaimana kalau saya mengajukan beasiswa. Setelah menunggu sekitar 1 bulan saya mendapatkan berita bahwa di kelas 3 saya dibebaskan dari semua biaya apapun. Saya sangat bahagia karena semua itu tidak saya duga sebelumnya.
Akhirnya saya dapat mengikuti ujian itu bersama teman- teman saya. Saya benar- benar bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan semuanya kepada saya. Satelah itu, di semester II saya mulai ikut teman menjual pulsa. Sejak saat itu saya sekolah sambil berjualan pulsa sebagai sampingan. Awalnya saya takut kena marah oleh guru, tetapi saya selalu memberanikan diri untuk berusaha. Akhirnya ujian sekolah tiba dan saya diberikan kelancaran dalam mengerjakan ujian akhir sekolah. Saya lulus dengan nilai yang pas- pasan. Tetapi saya bangga bisa membuat hati orang tua saya senang. Saya tidak menyangka bahwa sekolah meminta saya untuk menandatangani slip beasiswa di akhir kelas 3. Saya menerima uang itu dan saya berikankan kepada orang tua saya. Begitu senangnya orang tua saya menerima semua itu karena dapat digunakan untuk membiayai adikku. Setelah lulus saya mempunyai prinsip harus bisa kuliah, tetapi bagaimana saya bisa membayar kuliah saya, sedangkan orang tua saya masih membiayai adik saya. Akhirnya saya mencari pekerjaan dan mendapatkan pekerjaan disebuah perusahaan swasta PT SSI. Saya bekerja di perusahaan itu harus menanggung risiko yang besar, setiap hari saya membawa banyak uang dan yang paling saya takuti adalah perampok. Kejadian yang di Muntilan itu saya pakai sebagai pelajaran dan pengalaman bagaimana kita harus bekerja keras mencari uang.
Setelah satu tahun bekerja saya memutuskan untuk kuliah, akhirnya saya dapat masuk di UMBY. Jadi prinsip saya dari awal sudah tercapai yaitu bisa bekerja dan meneruskan sekolah lagi. Tetapi itu semua tidak lepas dari kita selalu berdo’a, berusaha, bersahabat, bekerja keras, jangan pernah putus asa, dan melatih diri saya untuk menjadi seorang pemimpin dalam hidup saya.
Saat saya masuk SMP, 2 hari sebelum melakukan ujian masuk SMP saya mendapatkan musibah. Tetapi saya menerimanya dengan sabar dan menjalani ujian dengan lancar. Akhirnya waktu pengumumanpun telah tiba dan sayapun langsung melihat penguman itu dan akhirnya saya bisa diterima di SMP yang saya inginkan. Saya bersyukur bisa masuk di SMP. Saya menjalani sekolah di SMP dengan penuh semangat, sampai akhirnya saya bisa ikut kejuaraan sepak takraw. Saya berjuang dengan teman- teman saya dan hasilnyapun sangat membanggakan bagi sekolah dan orang tua kami. Tiga tahun berlalu saya bersama teman –teman menjalani sekolah di SMP dan ujian akhirpun tiba. Saya saat itu juga mendapatkan cobaan, karena saat hari ketiga ujian saya jatuh sakit. Saya sangat kaget ketika melihat pengumuman karena hasilnya tidak memuaskan. Nilai mtematika saya hampir tidak memenuhi target. Tetapi saya masih bisa bersyukur karena saya bisa lulus.
Akhirnya, saya melanjutkan ke SMA. Saya mulai duduk dibangku kelas 1. Saya mulai memberanikan untuk menjadi atau mengikuti OSIS. Di kelas 1 ini saya hanya menjabat sebagai anggota dan bidang yang saya pegang adalah bidang olahraga. Nah, saat itu tibalah waktu akhir semester dan saya harus menyiapkan berbagai lomba ke olahragaan. Saya dituntut oleh guru pembimbing saya untuk bisa menjadi seorang pemimpin. Disitulah saya benar – benar mulai belajar sebagai seorang pemimpin. Saya juga pernah mengikuti seminar di SKB bantul selama 3 hari bersama 3 teman saya. Di situ saya bersama ketiga teman saya dibagi menjadi 3 kelompok dan kitapun ber jalan sendiri- sendiri. Disaat mengadakan diskusi saya mencoba selalu menjadi yang terbaik, itupun saya menuai hasil sehingga saya bisa memberi pengarahan kepada teman – teman saya di sekolah kami tentang kesehatan reproduksi yang saya dapat saat saya mengikuti seminar itu. Saat duduk di kelas 2, saya menjabat sebagai sekretaris di keanggotaan OSIS. Saya menjalankan tugas itu dengan baik dan lancar. Akhirnya saya melanjutkan ke bangku kelas 3 SMA.. Disaat awal masuk, kedua orang tua saya mengalami kesulitan ekonomi. Orang tua saya hanya bekerja wiraswasta. Saat itu saya sudah 5 bulan tidak dapat melunasi uang SPP saya. Saya berpikir bagaimana saya harus bisa melunasi tunggakan itu. Karena di tengah semester jika tidak melunasi saya tidak boleh mengikuti ujian semester. Saya sudah bingung dan takut kalau sampai tidak bisa mengikuti ujian itu. Akhirnya saya berpikir bagaimana kalau saya mengajukan beasiswa. Setelah menunggu sekitar 1 bulan saya mendapatkan berita bahwa di kelas 3 saya dibebaskan dari semua biaya apapun. Saya sangat bahagia karena semua itu tidak saya duga sebelumnya.
Akhirnya saya dapat mengikuti ujian itu bersama teman- teman saya. Saya benar- benar bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan semuanya kepada saya. Satelah itu, di semester II saya mulai ikut teman menjual pulsa. Sejak saat itu saya sekolah sambil berjualan pulsa sebagai sampingan. Awalnya saya takut kena marah oleh guru, tetapi saya selalu memberanikan diri untuk berusaha. Akhirnya ujian sekolah tiba dan saya diberikan kelancaran dalam mengerjakan ujian akhir sekolah. Saya lulus dengan nilai yang pas- pasan. Tetapi saya bangga bisa membuat hati orang tua saya senang. Saya tidak menyangka bahwa sekolah meminta saya untuk menandatangani slip beasiswa di akhir kelas 3. Saya menerima uang itu dan saya berikankan kepada orang tua saya. Begitu senangnya orang tua saya menerima semua itu karena dapat digunakan untuk membiayai adikku. Setelah lulus saya mempunyai prinsip harus bisa kuliah, tetapi bagaimana saya bisa membayar kuliah saya, sedangkan orang tua saya masih membiayai adik saya. Akhirnya saya mencari pekerjaan dan mendapatkan pekerjaan disebuah perusahaan swasta PT SSI. Saya bekerja di perusahaan itu harus menanggung risiko yang besar, setiap hari saya membawa banyak uang dan yang paling saya takuti adalah perampok. Kejadian yang di Muntilan itu saya pakai sebagai pelajaran dan pengalaman bagaimana kita harus bekerja keras mencari uang.
Setelah satu tahun bekerja saya memutuskan untuk kuliah, akhirnya saya dapat masuk di UMBY. Jadi prinsip saya dari awal sudah tercapai yaitu bisa bekerja dan meneruskan sekolah lagi. Tetapi itu semua tidak lepas dari kita selalu berdo’a, berusaha, bersahabat, bekerja keras, jangan pernah putus asa, dan melatih diri saya untuk menjadi seorang pemimpin dalam hidup saya.
KEPEMIMPINAN KU (Ceritanya Kelas Kepemimpinan (15))
Kepemimpinan merupakan hal yang mudah diucapkan tapi sulit di laksanakan.karena bagi saya memimpin diri sendiri saja sulit apa lagi memimpin orang lain yang berbeda satu sama lain dan berbeda fisi dan misi. selain itu pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bermental kuat dan memperhatikan anggotanya.Dulu saya pernah ditunjuk sebagai ketua disebuah karang taruna saya dtujuk sebagai ketua dalam seksi MC.saya sebenarnya tidak tau pa yang harus saya lakukan, karena saya mulai ini bener - bener dari nol besar.setilah dspat bimbingan dari senior saya mgerti pa tugas dan tanggung jawan jabtan yang ssaya emban. Diantaranya mebuat generasi mudamudi yang mempunyai mental yangt kuat karena berhadapan denga audien banyak.tapi mungkin karena saya sendri masih ragu - ragu dalam menjalan kan tugas nini hinga macet ditengah jalan.dan karena minat tersebut sedikit dminati.jadi saya tidak mendapkan generasi barunya.dari sini saya mendpatkan pelajaran banyak banget.buat saya seorng pemimpin harus bisa memberikan contoh yang baik bagi anggotanya.
YAKIN PASTI BISA (Ceritanya Kelas Kepemimpinan (14))
Saya anak pertama dari 4 bersaudara, adik saya 1 orang perempuan (sudah menikah dan mempunyai 2 orang anak) dan 2 laki-laki (adik no 2 telah menikah). Ada sedikit cerita yang ingin saya sampaikan, tentunya cerita atau pengalaman yang menarik menurut saya, dan saya berusaha dengan sebatas apa yang saya ingat.
Pengalaman Pertama. Pada saat itu ketika saya berusia + 4 tahun (pastinya saya tidak ingat), saya dan teman saya melihat pertunjukan sulap keliling yang kebetulan lewat di kampung saya, pesulap tersebut mempertunjukan keahliannya dalam memakan pecahan kaca (beling) menjadi uang logam. Saya dan teman saya sangat kagum dengan pertunjukkan tersebut. Keesokan harinya saya dan teman saya bercerita kembali dengan pesulap itu. Sehingga terpikirkan oleh saya untuk melakukan hal tersebut. Karena takut diketahui oleh orang-orang lain, kita bersembunyi disebuah lorong yang sepi. Kami saling menyuruh duluan untuk makan pecahan kaca yang telah kami peroleh, dan saya mencoba pertama untuk memakan pecahan kaca tersebut dan meniup didalam saku saya dan ternyata tidak ada apa-apa. Saya kaget luar biasa karena tiba-tiba teman saya teriak-teriak dengan kata-kata “Mbah-mbah, yudi maem beling!” (Nenek-nenek, yudi makan pacahan kaca). Tentunya nenek saya marah besar. Sejak kejadian itu saya tidak pernah lagi melakukan hal tolol tersebut.
Pengalaman Kedua. Pada saat itu saya tinggal di Bali tepatnya di Banjar Yang Batu Kauh, salah satu desa di Kota Denpasar. Pada hari minggu dan hari libur, saya yang ketika itu kira-kira duduk kelas 4 SD, saya lebih suka bermain bola bersama teman-teman sebaya di kampung. Saat itu kami telah memiliki club, ya..meskipun ndak seperti club-club seperti sekarang ini, kami merasa sangat senang dan gembira kumpul bersama untuk bermain bola. Di kampung kami ada beberapa club bola yang usianya sebaya dengan kami, dan kadang-kadang kami latihan bersama (bertanding). Kebetulan pada hari minggu ini kami bertanding di lapangan dekat Koramil, tempatnya memang agak jauh dari tempat tinggal kami. Tetapi ibu saya menyuruh saya menjaga 2 orang adik saya, karena beliau dan adik saya yang paling kecil akan pergi ke tempat saudara di kampung sebelah. Dasar ketika itu saya masih anak-anak, dalam pikiran saya cuman main dan bermain saja. Tetapi bagaimana dengan kedua adik saya? Saya tidak bias meninggalkan mereka, dengan terpaksa saya mengajak adik-adik saya untuk ikut dengan saya, adik saya yang laki-laki saya gendong karena usianya lebih mudah dari adik saya yang perempuan.
Tibalah kami di tempat yang telah dijanjikan, dan teman-temanku sudah pada berkumpul dan pertandingan sudah dimulai, tetapi tiba-tiba kami diusir oleh petugas lapangan, kami dilarang untuk bermain di lapangan tersebut, karena sebentar lagi ada pertandingan sepakbola untuk orang dewasa. Dengan hati yang sedikit kecewa, kami akhirnya bermain bola di halaman masjid dekat lapangan Korem tersebut. Dengan ukuran yang cukuplah buat kami. Tiba-tiba pula hujan lebat turun dari langit, saya segera membimbing adik-adik saya untuk berteduh di teras masjid untuk berteduh, setelah itu saya meneruskan bermain bola, tidak terasa waktu terus berlalu begitu cepat dan hujan tidak kunjung reda, saya dikejutkan oleh panggilan seorang wanita yang membawa payung hujan, jantung saya berdekup kencang ternyata itu ibu saya, dalam hati saya berpikir pasti ibu marah besar, dan ternyata memang benar, dalam perjalanan pulang ndak habis-habisnya ibu saya memarahi saya dan kadang-kadang mencubit saya.
Pengalaman ketiga. Saat itu saya duduk di bangku kelas 3 SMP. Cita-cita saya adalah ingin menjadi ahli elektronika. Sedangkan ayah, mengharapkan saya bisa menjadi seorang ahli bangunan. Tetapi ayah saya tidak memaksakan, dan saya mencoba mendaftarkan diri di di STM Negeri 2 Yogyakarta tempat tanah kelahiran saya, untuk seleksi administrasi tahap pertama saya lolos, tetapi ketika akan melengkapi syarat-syarat administrasi tahap ke 2, saya mengalami permasalahan dalam pengurusan surat pindah antar propinsi, yang setelah dicoba untuk meminta tempo ternyata tidak bisa, akhirnya saya kembali ke Denpasar dan mencoba keberuntungan di STM Negeri Denpasar, tapi sayang seribu sayang jurusan yang saya minati telah ditutup karena sudah melebihi quota, saya pun di sodorkan 2 pilihan, Tehnik Mesin Produksi atau Tehnik Bangunan, dengan beberapa pertimbangan dengan ayah saya, saya memutuskan untuk memilih Tehnik Mesin Produksi. Tahun demi tahun berganti dan tibalah saatnya untuk membuat tugas akhir sebagai syarat kelulusan saya. Saat itu rental komputer sangat jarang sekali dijumpai, adapun relatif mahal biayanya, tidak terpikir oleh saya untuk membuat laporan tugas akhir dengan komputer. Saya mengerjakan sendiri laporan tugas akhir saya dengan menggunakan mesin ketik manual yang saya pinjam dari saudara sepupu saya. Iri rasanya melihat teman-teman yang mengerjakan laporan dengan komputer, dalam hati saya berujar “Kapan ya kiranya saya bisa belajar komputer?”, “apa mungkin?”, “apa bias?”, kata-kata itu terus terucap dalam hati saya, dan saya menyadari itu tidak mungkin. Pada akhirnya saya bersyukur karena saya lulus sekolah dengan nilai rapor dan ijasah yang cukup baik, dengan kekurangan yang saya miliki, dan saya kembali ke Yogyakarta.
Tidak terasa waktu terus berjalan dari tempat kerja yang satu ke tempat kerja yang lain saya mencoba keberuntungan di Yogyakarta. Satu tempat yang membuat saya merefleksikan pikiran saya ke belakang adalah ketika ada salah satu tetangga baru saya menawarkan untuk membantu dia membuka rental komputer. Saya mengatakan kalo saya belum bias mengoperasikan komputer, tetapi tetangga saya (Bapak Kurnain) tersebut menyakinkan saya, bahwa saya akan dibimbingnya supaya bisa. Saya mencoba untuk menerima tawaran tersebut, dan waktu berjalan saya terus dibina oleh Pak Kurnain. Tidak terasa 1 tahun berlalu, dan saya sudah cukup bisa untuk mengoperasikan komputer. Ketika itu Pak Kurnain mendapat panggilan dari orang tuanya untuk membuka kursus komputer di daerahnya (Nunukan – Kalimantan Timur), dan Pak Kurnain akhirnya memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya, beliau pun menawarkan saya untuk turut serta ke sana. Dengan pertimbangan keluarga membolehkan, saya akhirnya berangkat juga ke Nunukan-Kaltim untuk membuka Lembaga Pendidikan Komputer di Nunukan. Sesampainya di Nunukan, lagi-lagi saya diberikan tugas yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh saya, yaitu untuk membuat modul pelajaran komputer. Mau tidak mau saya harus membuatnya dengan beberapa literatur yang telah disediakan oleh Pak Kurnaen.
Satu hal yang membuat saya tidak percaya, dulu saya berpikir kalau saya tidak mungkin belajar Komputer (meskipun dalam hati yang paling dalam saya sangat-sangat ingin belajar Komputer), tetapi Allah berkehendak lain, saat itu saya diberi kesempatan yang menurut saya luar biasa, untuk membuat diktat/modul pengajaran komputer, bahkan saya sempat menjadi tentornya meskipun hanya dalam waktu 8 bulan.
Sebenarnya masih ada lagi pengalaman saya yang ingin saya ceritakan. Insya Allah lain kesempatan saya akan mencoba untuk menceritakannya. Mohon maaf apabila tulisan ini masih compang-camping, dan dalam penulisan masih terdapat banyak kesalahan.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Pengalaman Pertama. Pada saat itu ketika saya berusia + 4 tahun (pastinya saya tidak ingat), saya dan teman saya melihat pertunjukan sulap keliling yang kebetulan lewat di kampung saya, pesulap tersebut mempertunjukan keahliannya dalam memakan pecahan kaca (beling) menjadi uang logam. Saya dan teman saya sangat kagum dengan pertunjukkan tersebut. Keesokan harinya saya dan teman saya bercerita kembali dengan pesulap itu. Sehingga terpikirkan oleh saya untuk melakukan hal tersebut. Karena takut diketahui oleh orang-orang lain, kita bersembunyi disebuah lorong yang sepi. Kami saling menyuruh duluan untuk makan pecahan kaca yang telah kami peroleh, dan saya mencoba pertama untuk memakan pecahan kaca tersebut dan meniup didalam saku saya dan ternyata tidak ada apa-apa. Saya kaget luar biasa karena tiba-tiba teman saya teriak-teriak dengan kata-kata “Mbah-mbah, yudi maem beling!” (Nenek-nenek, yudi makan pacahan kaca). Tentunya nenek saya marah besar. Sejak kejadian itu saya tidak pernah lagi melakukan hal tolol tersebut.
Pengalaman Kedua. Pada saat itu saya tinggal di Bali tepatnya di Banjar Yang Batu Kauh, salah satu desa di Kota Denpasar. Pada hari minggu dan hari libur, saya yang ketika itu kira-kira duduk kelas 4 SD, saya lebih suka bermain bola bersama teman-teman sebaya di kampung. Saat itu kami telah memiliki club, ya..meskipun ndak seperti club-club seperti sekarang ini, kami merasa sangat senang dan gembira kumpul bersama untuk bermain bola. Di kampung kami ada beberapa club bola yang usianya sebaya dengan kami, dan kadang-kadang kami latihan bersama (bertanding). Kebetulan pada hari minggu ini kami bertanding di lapangan dekat Koramil, tempatnya memang agak jauh dari tempat tinggal kami. Tetapi ibu saya menyuruh saya menjaga 2 orang adik saya, karena beliau dan adik saya yang paling kecil akan pergi ke tempat saudara di kampung sebelah. Dasar ketika itu saya masih anak-anak, dalam pikiran saya cuman main dan bermain saja. Tetapi bagaimana dengan kedua adik saya? Saya tidak bias meninggalkan mereka, dengan terpaksa saya mengajak adik-adik saya untuk ikut dengan saya, adik saya yang laki-laki saya gendong karena usianya lebih mudah dari adik saya yang perempuan.
Tibalah kami di tempat yang telah dijanjikan, dan teman-temanku sudah pada berkumpul dan pertandingan sudah dimulai, tetapi tiba-tiba kami diusir oleh petugas lapangan, kami dilarang untuk bermain di lapangan tersebut, karena sebentar lagi ada pertandingan sepakbola untuk orang dewasa. Dengan hati yang sedikit kecewa, kami akhirnya bermain bola di halaman masjid dekat lapangan Korem tersebut. Dengan ukuran yang cukuplah buat kami. Tiba-tiba pula hujan lebat turun dari langit, saya segera membimbing adik-adik saya untuk berteduh di teras masjid untuk berteduh, setelah itu saya meneruskan bermain bola, tidak terasa waktu terus berlalu begitu cepat dan hujan tidak kunjung reda, saya dikejutkan oleh panggilan seorang wanita yang membawa payung hujan, jantung saya berdekup kencang ternyata itu ibu saya, dalam hati saya berpikir pasti ibu marah besar, dan ternyata memang benar, dalam perjalanan pulang ndak habis-habisnya ibu saya memarahi saya dan kadang-kadang mencubit saya.
Pengalaman ketiga. Saat itu saya duduk di bangku kelas 3 SMP. Cita-cita saya adalah ingin menjadi ahli elektronika. Sedangkan ayah, mengharapkan saya bisa menjadi seorang ahli bangunan. Tetapi ayah saya tidak memaksakan, dan saya mencoba mendaftarkan diri di di STM Negeri 2 Yogyakarta tempat tanah kelahiran saya, untuk seleksi administrasi tahap pertama saya lolos, tetapi ketika akan melengkapi syarat-syarat administrasi tahap ke 2, saya mengalami permasalahan dalam pengurusan surat pindah antar propinsi, yang setelah dicoba untuk meminta tempo ternyata tidak bisa, akhirnya saya kembali ke Denpasar dan mencoba keberuntungan di STM Negeri Denpasar, tapi sayang seribu sayang jurusan yang saya minati telah ditutup karena sudah melebihi quota, saya pun di sodorkan 2 pilihan, Tehnik Mesin Produksi atau Tehnik Bangunan, dengan beberapa pertimbangan dengan ayah saya, saya memutuskan untuk memilih Tehnik Mesin Produksi. Tahun demi tahun berganti dan tibalah saatnya untuk membuat tugas akhir sebagai syarat kelulusan saya. Saat itu rental komputer sangat jarang sekali dijumpai, adapun relatif mahal biayanya, tidak terpikir oleh saya untuk membuat laporan tugas akhir dengan komputer. Saya mengerjakan sendiri laporan tugas akhir saya dengan menggunakan mesin ketik manual yang saya pinjam dari saudara sepupu saya. Iri rasanya melihat teman-teman yang mengerjakan laporan dengan komputer, dalam hati saya berujar “Kapan ya kiranya saya bisa belajar komputer?”, “apa mungkin?”, “apa bias?”, kata-kata itu terus terucap dalam hati saya, dan saya menyadari itu tidak mungkin. Pada akhirnya saya bersyukur karena saya lulus sekolah dengan nilai rapor dan ijasah yang cukup baik, dengan kekurangan yang saya miliki, dan saya kembali ke Yogyakarta.
Tidak terasa waktu terus berjalan dari tempat kerja yang satu ke tempat kerja yang lain saya mencoba keberuntungan di Yogyakarta. Satu tempat yang membuat saya merefleksikan pikiran saya ke belakang adalah ketika ada salah satu tetangga baru saya menawarkan untuk membantu dia membuka rental komputer. Saya mengatakan kalo saya belum bias mengoperasikan komputer, tetapi tetangga saya (Bapak Kurnain) tersebut menyakinkan saya, bahwa saya akan dibimbingnya supaya bisa. Saya mencoba untuk menerima tawaran tersebut, dan waktu berjalan saya terus dibina oleh Pak Kurnain. Tidak terasa 1 tahun berlalu, dan saya sudah cukup bisa untuk mengoperasikan komputer. Ketika itu Pak Kurnain mendapat panggilan dari orang tuanya untuk membuka kursus komputer di daerahnya (Nunukan – Kalimantan Timur), dan Pak Kurnain akhirnya memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya, beliau pun menawarkan saya untuk turut serta ke sana. Dengan pertimbangan keluarga membolehkan, saya akhirnya berangkat juga ke Nunukan-Kaltim untuk membuka Lembaga Pendidikan Komputer di Nunukan. Sesampainya di Nunukan, lagi-lagi saya diberikan tugas yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh saya, yaitu untuk membuat modul pelajaran komputer. Mau tidak mau saya harus membuatnya dengan beberapa literatur yang telah disediakan oleh Pak Kurnaen.
Satu hal yang membuat saya tidak percaya, dulu saya berpikir kalau saya tidak mungkin belajar Komputer (meskipun dalam hati yang paling dalam saya sangat-sangat ingin belajar Komputer), tetapi Allah berkehendak lain, saat itu saya diberi kesempatan yang menurut saya luar biasa, untuk membuat diktat/modul pengajaran komputer, bahkan saya sempat menjadi tentornya meskipun hanya dalam waktu 8 bulan.
Sebenarnya masih ada lagi pengalaman saya yang ingin saya ceritakan. Insya Allah lain kesempatan saya akan mencoba untuk menceritakannya. Mohon maaf apabila tulisan ini masih compang-camping, dan dalam penulisan masih terdapat banyak kesalahan.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
BERHENTI MEROKOK (Ceritanya Kelas Kepemimpian (13))
Cerita ini dimulai ketika saya berumur 12 tahun ketika pertama kali saya belajar merokok. Saya mulai merokok sejak kelas 2 SMP, awalnya saya penasaran dan juga banyak mendapat contoh yang tidak baik dari lingkungan, ayah saya seorang perokok, banyak dari om dan paman saya juga perokok, teman sekolah saya juga banyak yang dalam tahap belajar merokok, bahkan ada yang sudah mulai merokok sejak SD, dengan dorongan lingkungan dan rasa ingin tahu yang besar mulailah saya menjadi seorang perokok aktif.
Singkat cerita sudah 12 tahun saya menjadi seorang perokok aktif, merokok sudah merupakan suatu kebutuhan, saya lebih memilih menunda makan hingga saya sudah memiliki rokok untuk saya hisap sesudah makan, daripada makan tetapi tidak merokok setelahnya, kadang saya seperti diperbudak oleh rokok karena rokok harus selalu ada, tidak bisa tidak. Dari sisi ekonomi kadang saya tidak dapat memenuhi kebutuhan saya akan rokok, tetapi itu tidak menghentikan saya untuk berusaha mendapatkan rokok, banyak cara yang saya lakukan, mulai dari meminta teman sampai mengais recehan demi sebatang rokok.
Hingga beberapa tahun terakhir saya merasakan perubahan dari sisi kesehatan pada diri saya. Saya sering menderita batuk, tidur saya tidak pernah pulas karena sesak nafas saat tidur, bahkan nafas saya berbunyi ketika tidur. Saya menjadi alergi terhadap dingin, dada kiri saya terasa sakit bila hari mulai sore dan menjelang subuh. Dari sisi ekonomi, uang saya selalu pas-pasan kalau tidak boleh dibilang kurang, gaji saya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup selama sebulan, tidak pernah ada sisa untuk menabung, setelah saya melakukan perhitungan ternyata rokok menyita 35% dari gaji saya, atau setara dengan biaya kos sebulan.
Setelah mengalami banyak kerugian, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi akhirnya mulai terbentuk keinginan untuk dapat berhenti merokok atau minimal menguranginya. Beberapa kali saya mencoba berhenti merokok samasekali, hasilnya saya memang berhasil berhenti selama beberapa hari, maksimal 4 hari, setelahnya mulai merokok lagi karena banyak faktor, mulai dari lingkungan sampai niat yang lagi-lagi menguap. Semakin sering saya mencoba dan gagal, saya semakin pesimis. Untungnya, dukungan dari orang-orang terdekat dan dorongan untuk berhenti merokok membuat saya seperti memiliki kekuatan untuk berhenti merokok selamanya.
Sebenarnya momen historis yang paling saya ingat dan yang saya pikir berhasil membulatkan tekad saya adalah ketika suatu subuh disaat tidur saya mengalami gangguan pernafasan dan diantara setengah tertidur saya dapat mendengar suara radio yang biasa saya nyalakan sepanjang malam, saat itu radio sedang menyiarkan siraman rohani oleh Aa’ Gym, disitu beliau bercerita tentang perbuatan yang sia-sia, betapa merokok merupakan perbuatan yang sia-sia, bahkan merugikan dari sisi kesehatan dan ekonomi. Saya pikir akumulasi dari rasa sakit yang saya alami, kerugian ekonomi, dukungan keluarga dan terakhir sugesti positif dari Aa’ Gym yang datang disaat yang tepat lah yang telah berhasil membuat saya dapat berhenti merokok hingga sekarang. Saya percaya semua itu bukan kebetulan, tetapi ada ‘Pengatur rencana’ yang mengatur dibaliknya, semua kejadian terutama yang terakhir datang benar-benar disaat yang tepat sehingga saya seperti mendapat kekuatan untuk bisa tetap berhenti merokok sampai detik ini.
Kini sudah lebih dari 7 bulan saya berhenti merokok dan semoga tetap begitu selamanya. Kini kesehatan saya semakin membaik, berat badan saya naik 4 kg, tidur saya lebih nyenyak dari sebelumnya dan gangguan pernapasan ketika saya tidur sudah tidak ada lagi. Memang benar 7 bulan tidak merokok belum bisa menjadi bandingan dari 12 tahun sebagai perokok, tetapi kalau kita tidak mulai sekarang bukankah akan lebih banyak waktu kita yang habis dalam kesia-siaan? Mungkin saya termasuk yang beruntung dapat langsung berhenti pada hari saya mendapat ‘hidayah’, dan saya hanya dapat berbagi cerita ini serta mendoakan teman-teman yang juga ingin berhenti merokok agar sukses dalam rencananya.
Terima kasih
Singkat cerita sudah 12 tahun saya menjadi seorang perokok aktif, merokok sudah merupakan suatu kebutuhan, saya lebih memilih menunda makan hingga saya sudah memiliki rokok untuk saya hisap sesudah makan, daripada makan tetapi tidak merokok setelahnya, kadang saya seperti diperbudak oleh rokok karena rokok harus selalu ada, tidak bisa tidak. Dari sisi ekonomi kadang saya tidak dapat memenuhi kebutuhan saya akan rokok, tetapi itu tidak menghentikan saya untuk berusaha mendapatkan rokok, banyak cara yang saya lakukan, mulai dari meminta teman sampai mengais recehan demi sebatang rokok.
Hingga beberapa tahun terakhir saya merasakan perubahan dari sisi kesehatan pada diri saya. Saya sering menderita batuk, tidur saya tidak pernah pulas karena sesak nafas saat tidur, bahkan nafas saya berbunyi ketika tidur. Saya menjadi alergi terhadap dingin, dada kiri saya terasa sakit bila hari mulai sore dan menjelang subuh. Dari sisi ekonomi, uang saya selalu pas-pasan kalau tidak boleh dibilang kurang, gaji saya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup selama sebulan, tidak pernah ada sisa untuk menabung, setelah saya melakukan perhitungan ternyata rokok menyita 35% dari gaji saya, atau setara dengan biaya kos sebulan.
Setelah mengalami banyak kerugian, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi akhirnya mulai terbentuk keinginan untuk dapat berhenti merokok atau minimal menguranginya. Beberapa kali saya mencoba berhenti merokok samasekali, hasilnya saya memang berhasil berhenti selama beberapa hari, maksimal 4 hari, setelahnya mulai merokok lagi karena banyak faktor, mulai dari lingkungan sampai niat yang lagi-lagi menguap. Semakin sering saya mencoba dan gagal, saya semakin pesimis. Untungnya, dukungan dari orang-orang terdekat dan dorongan untuk berhenti merokok membuat saya seperti memiliki kekuatan untuk berhenti merokok selamanya.
Sebenarnya momen historis yang paling saya ingat dan yang saya pikir berhasil membulatkan tekad saya adalah ketika suatu subuh disaat tidur saya mengalami gangguan pernafasan dan diantara setengah tertidur saya dapat mendengar suara radio yang biasa saya nyalakan sepanjang malam, saat itu radio sedang menyiarkan siraman rohani oleh Aa’ Gym, disitu beliau bercerita tentang perbuatan yang sia-sia, betapa merokok merupakan perbuatan yang sia-sia, bahkan merugikan dari sisi kesehatan dan ekonomi. Saya pikir akumulasi dari rasa sakit yang saya alami, kerugian ekonomi, dukungan keluarga dan terakhir sugesti positif dari Aa’ Gym yang datang disaat yang tepat lah yang telah berhasil membuat saya dapat berhenti merokok hingga sekarang. Saya percaya semua itu bukan kebetulan, tetapi ada ‘Pengatur rencana’ yang mengatur dibaliknya, semua kejadian terutama yang terakhir datang benar-benar disaat yang tepat sehingga saya seperti mendapat kekuatan untuk bisa tetap berhenti merokok sampai detik ini.
Kini sudah lebih dari 7 bulan saya berhenti merokok dan semoga tetap begitu selamanya. Kini kesehatan saya semakin membaik, berat badan saya naik 4 kg, tidur saya lebih nyenyak dari sebelumnya dan gangguan pernapasan ketika saya tidur sudah tidak ada lagi. Memang benar 7 bulan tidak merokok belum bisa menjadi bandingan dari 12 tahun sebagai perokok, tetapi kalau kita tidak mulai sekarang bukankah akan lebih banyak waktu kita yang habis dalam kesia-siaan? Mungkin saya termasuk yang beruntung dapat langsung berhenti pada hari saya mendapat ‘hidayah’, dan saya hanya dapat berbagi cerita ini serta mendoakan teman-teman yang juga ingin berhenti merokok agar sukses dalam rencananya.
Terima kasih
MY LIVING STORY (Ceritanya Kelas Kepemimpinan (12))
Saya lahir di Kupang, NTT. Ayah saya adalah seorang PNS. Selama menjadi PNS, beliau sudah beberapa kali berpindah tugas. Dimulai dari Kupang, kemudian ke Jember, lalu ke Bondowoso, dan sekarang beliau ditugaskan di POLDA DIY. Dan karena ayah saya adalah imam dalam keluarga kami, maka kemanapun ayah saya ditugaskan kami harus selalu ikut bersamanya.
Dengan demikian, maka sudah empat kota, empat daerah yang sudah pernah kami singgahi. Saya merasa sangat bersyukur karena banyak sekali pengalaman yang saya peroleh dari kota yang satu ke kota yang lain. Diantaranya, saya lebih bisa mengenal watak atau sifat dari penduduk setempat, daerah yang pernah kami singgahi. Mulai dari Kupang, Jember, Bondowoso, Klaten, dan kini di DIY.
Kami sekeluarga memiliki pengalaman menjadi seorang pemimpin yang berbeda-beda. Ibuku pernah menjadi seorang ketua PKK. Ayah saya pernah menjadi seorang ketua RT, dan seorang kepala bagian di kantornya. Dan saya sendiri pernah menjadi ketua OSIS di SMK saya. Begitu pula kakak dan adik saya yang pernah menjadi ketua di kampus dan sekolahnya masing-masing. Dengan demikian, kami sekeluarga pernah menjadi orang yang dianggap paling berpengaruh dalam sebuah organisasi.
Disini saya akan bercerita sedikit tentang pengalaman saya menjadi seorang ketua organisasi dari kesiswaan yang paling berpengaruh di sekolah menengah, yaitu OSIS. Saya ingin sekali berbagi pengalaman saya yang satu ini karena menurut saya ini adalah pengalaman yang paling berkesan dalam hidup saya selama ini saat menjadi seorang pemimpin.
“Setiap manusia adalah khalifah”. Kalimat itu yang selalu saya renungkan dan pertimbangkan. Khalifah bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Dan kalimat inilah yang menjadi motifasi saya untuk menerima dan mengemban tugas menjadi seorang ketua OSIS. Disamping itu, saya juga bisa banyak belajar untuk menjadi seorang pemimpin yang bisa mengarahkan haluan organisasi sesuai dengan visi dan misi bersama dari sebuah organisasi. Hal ter sebut sangat memacu semangat dan optimisme saya.
Diawal saya menjadi seorang ketua OSIS, saya sangat senang, dan bangga. Karena sudah menjadi cita-cita saya sejak saya masuk SMP dan karena tidak semua orang diberi kesempatan yang sama untuk menjadi seorang ketua OSIS. Sayapun semangat untuk menyusun program kerja dan berkomitmen untuk menjalankannya dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati. Dan Alhamdulillah anggota tim yang saya pimpin tersebut rajin-rajin dan penuh dengan semangat. Kamipun menjadi sebuah tim yang bisa dikatakan lebih baik dari tim-tim yang sebelumnya. Karena kami mampu untuk berdiri tanpa harus mengikuti program kerja “nenek moyang” kami walau tidak secara keseluruhan. Banyak kegiatan baru yang bisa kami adakan, yang mana tim sebelumnya tidak bisa melaksanakan dengan berbagai alasan.
Ditengah rasa semangat kami yang semakin hari semakin berkobar, kami diuji oleh Allah. 27 Mei 2006, DIY dan sekitarnya, termasuk Klaten diguncang gempa yang cukup dahsyat. Tidak sedikit rumah guru, teman, dan bahkan anggota tim kami yang hancur. Alhamdulillah, rumah yang saya tempati hanya mengalami sedikit kerusakan. Dari situlah saya merasa bahwa kepemimpinan saya sedang diuji oleh Allah. Karena sebuah event besar yang sudah kami persiapkan beberapa bulan sebelumnya, yang saat itu bisa dikatakan 98% telah rampung dan siap dilaksanakan, dan bahkan hanya tinggal menunggu hari pelaksanaanya harus dibatalkan. Sebuah perasaan kecewapun muncul dari dalam hati yang terdalam. Namun apa mau dikata. Jika Alllah menghendaki,maka apapun pasti akan terjadi. Pahit ataupun manis, semua pasti ada hikmahnya. Dan saya pribadi merasa Allah menegur kami dengan cara tersebut karena kami terlalu sombong.
Dilema besar terjadi dalam hati saya. Di satu sisi saya harus membantu orang tua saya di rumah untuk memperbaiki kerusakan yang timbul akibat gempa, disisi lain saya harus tetap bisa menjadi seorang ketua OSIS dan mengkoordinir anggota dari organisasi tersebut untuk kegiatan insidentil. Dan kedua hal tersebut teramat sulit bagi diri saya untuk melaksanakannya secara bersamaan.
Dalam keruwetan yang terjadi di dalam otak dan pikiran saya, saya teringat bahwa semua datang dari Allah dan akan kembali pada-Nya. Dan dari situ saya memutuskan untuk mengkoordinir semua pengurus OSIS di sekolah. Karena saya menyadari bahwa seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban bukan hanya di dunia, namun juga di akhirat. Hal tersebut yang memberatkan saya untuk lebih memilih tetap menjalankan tugas mengkoordinir rekan pengurus OSIS di sekolah. Dan berangkatlah saya ke sekolah dengan memohon do’a, restu, dan keridhoan orang tua. Alhamdulillah, orang tua saya mengerti dan merstui keputusan yang saya ambil.
Di sekolah, saya dan rekan OSIS yang rumahnya terbilang aman dari gempa, langsung mendirikan posko tanggap darurat. Kami sangat bersemangat untuk membantu guru, dan teman kami yang saat itu menurut kami teramat sangat membutuhkan perhatian dari orang disekitarnya yang merasa selamat dari gempa. Karena kami merasa bahwa kami adalah satu keluarga, dimana jika ada salah satu anggota keluarga kami yang sakit, maka kami juga akan merasakan hal yang sama.
Bantuan dari luar sekolahpun banyak yang datang. Baik berupa logistic, maupun pakaian. Alhamdulillah, koordinasi berjalan dengan lancar dan bantuanpun 90-95% tepat sasaran. Siswa lain yang tidak bisa membantu secara materipun langsung mendaftarkan diri untuk menjadi relawan.saya sangat bersyukur, dan saya merasa ini adalah salah satu hikmah dari sebuah bencana, bahwa dengan didatangkannya bencana, rasa persaudaraan diantara kita semua menjadi lebih erat.
Hari-hari berikutnya, saya harus mengkoordinir relawan yang jumlahnya tidak sedikit yang akan ditempatkan di beberapa rumah guru, dan teman kami yang hancur akibat gempa. Dalam satu hari, saya harus mengkoordinir pemberangkatan, konsumsi, hingga kembalinya tiga truk relawan dari tiga tempat yang berbeda. Sungguh sebuah pekerjaan yang cukup berat namun harus tetap dilaksanakan.
Hari demi haripun berlalu. Kepulihanpun mulai terlihat. Dan Alhamdulillah, traumapun mulai menghilang sedikit demi sedikit. Laporan-laporanpun harus mulai kami kerjakan. Dan Alhamdulillah, bapak kepala sekolah merasa bangga atas hasil kerja keras kami. Kamipun diberi penghargaan.
Saya merasa bahwa ini adalah pengalaman yang paling berharga karena banyak sekali yang bisa saya ambil dari kejadian dan situasi tersebut. Dan salah satu pelajaran yang menurut saya paling berharga adalah bahwa seorang pemimpin tidak akan bisa menjalankan visi dan misi dari apa dan siapa yang dia pimpin tanpa anggota yang bisa mendukungnya sepenuh hati. Dan keberhasilan sebuah tim bukan hanya karena pengaruh pemimpinnya namun juga kerjasama tim yang solid. Dan untuk mencapai sebuah kesuksesan, maka kita harus memiliki visi, motifasi, dan aksi.
Mungkin baru ini yang bisa saya sampaikan mengenai sedikit kisah dan pengalaman hidup saya dalam hal kepemimpinan. Semoga ada hikmah yang bisa kita ambil dari sedikit kisah saya diatas. Terima kasih.
Dengan demikian, maka sudah empat kota, empat daerah yang sudah pernah kami singgahi. Saya merasa sangat bersyukur karena banyak sekali pengalaman yang saya peroleh dari kota yang satu ke kota yang lain. Diantaranya, saya lebih bisa mengenal watak atau sifat dari penduduk setempat, daerah yang pernah kami singgahi. Mulai dari Kupang, Jember, Bondowoso, Klaten, dan kini di DIY.
Kami sekeluarga memiliki pengalaman menjadi seorang pemimpin yang berbeda-beda. Ibuku pernah menjadi seorang ketua PKK. Ayah saya pernah menjadi seorang ketua RT, dan seorang kepala bagian di kantornya. Dan saya sendiri pernah menjadi ketua OSIS di SMK saya. Begitu pula kakak dan adik saya yang pernah menjadi ketua di kampus dan sekolahnya masing-masing. Dengan demikian, kami sekeluarga pernah menjadi orang yang dianggap paling berpengaruh dalam sebuah organisasi.
Disini saya akan bercerita sedikit tentang pengalaman saya menjadi seorang ketua organisasi dari kesiswaan yang paling berpengaruh di sekolah menengah, yaitu OSIS. Saya ingin sekali berbagi pengalaman saya yang satu ini karena menurut saya ini adalah pengalaman yang paling berkesan dalam hidup saya selama ini saat menjadi seorang pemimpin.
“Setiap manusia adalah khalifah”. Kalimat itu yang selalu saya renungkan dan pertimbangkan. Khalifah bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Dan kalimat inilah yang menjadi motifasi saya untuk menerima dan mengemban tugas menjadi seorang ketua OSIS. Disamping itu, saya juga bisa banyak belajar untuk menjadi seorang pemimpin yang bisa mengarahkan haluan organisasi sesuai dengan visi dan misi bersama dari sebuah organisasi. Hal ter sebut sangat memacu semangat dan optimisme saya.
Diawal saya menjadi seorang ketua OSIS, saya sangat senang, dan bangga. Karena sudah menjadi cita-cita saya sejak saya masuk SMP dan karena tidak semua orang diberi kesempatan yang sama untuk menjadi seorang ketua OSIS. Sayapun semangat untuk menyusun program kerja dan berkomitmen untuk menjalankannya dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati. Dan Alhamdulillah anggota tim yang saya pimpin tersebut rajin-rajin dan penuh dengan semangat. Kamipun menjadi sebuah tim yang bisa dikatakan lebih baik dari tim-tim yang sebelumnya. Karena kami mampu untuk berdiri tanpa harus mengikuti program kerja “nenek moyang” kami walau tidak secara keseluruhan. Banyak kegiatan baru yang bisa kami adakan, yang mana tim sebelumnya tidak bisa melaksanakan dengan berbagai alasan.
Ditengah rasa semangat kami yang semakin hari semakin berkobar, kami diuji oleh Allah. 27 Mei 2006, DIY dan sekitarnya, termasuk Klaten diguncang gempa yang cukup dahsyat. Tidak sedikit rumah guru, teman, dan bahkan anggota tim kami yang hancur. Alhamdulillah, rumah yang saya tempati hanya mengalami sedikit kerusakan. Dari situlah saya merasa bahwa kepemimpinan saya sedang diuji oleh Allah. Karena sebuah event besar yang sudah kami persiapkan beberapa bulan sebelumnya, yang saat itu bisa dikatakan 98% telah rampung dan siap dilaksanakan, dan bahkan hanya tinggal menunggu hari pelaksanaanya harus dibatalkan. Sebuah perasaan kecewapun muncul dari dalam hati yang terdalam. Namun apa mau dikata. Jika Alllah menghendaki,maka apapun pasti akan terjadi. Pahit ataupun manis, semua pasti ada hikmahnya. Dan saya pribadi merasa Allah menegur kami dengan cara tersebut karena kami terlalu sombong.
Dilema besar terjadi dalam hati saya. Di satu sisi saya harus membantu orang tua saya di rumah untuk memperbaiki kerusakan yang timbul akibat gempa, disisi lain saya harus tetap bisa menjadi seorang ketua OSIS dan mengkoordinir anggota dari organisasi tersebut untuk kegiatan insidentil. Dan kedua hal tersebut teramat sulit bagi diri saya untuk melaksanakannya secara bersamaan.
Dalam keruwetan yang terjadi di dalam otak dan pikiran saya, saya teringat bahwa semua datang dari Allah dan akan kembali pada-Nya. Dan dari situ saya memutuskan untuk mengkoordinir semua pengurus OSIS di sekolah. Karena saya menyadari bahwa seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban bukan hanya di dunia, namun juga di akhirat. Hal tersebut yang memberatkan saya untuk lebih memilih tetap menjalankan tugas mengkoordinir rekan pengurus OSIS di sekolah. Dan berangkatlah saya ke sekolah dengan memohon do’a, restu, dan keridhoan orang tua. Alhamdulillah, orang tua saya mengerti dan merstui keputusan yang saya ambil.
Di sekolah, saya dan rekan OSIS yang rumahnya terbilang aman dari gempa, langsung mendirikan posko tanggap darurat. Kami sangat bersemangat untuk membantu guru, dan teman kami yang saat itu menurut kami teramat sangat membutuhkan perhatian dari orang disekitarnya yang merasa selamat dari gempa. Karena kami merasa bahwa kami adalah satu keluarga, dimana jika ada salah satu anggota keluarga kami yang sakit, maka kami juga akan merasakan hal yang sama.
Bantuan dari luar sekolahpun banyak yang datang. Baik berupa logistic, maupun pakaian. Alhamdulillah, koordinasi berjalan dengan lancar dan bantuanpun 90-95% tepat sasaran. Siswa lain yang tidak bisa membantu secara materipun langsung mendaftarkan diri untuk menjadi relawan.saya sangat bersyukur, dan saya merasa ini adalah salah satu hikmah dari sebuah bencana, bahwa dengan didatangkannya bencana, rasa persaudaraan diantara kita semua menjadi lebih erat.
Hari-hari berikutnya, saya harus mengkoordinir relawan yang jumlahnya tidak sedikit yang akan ditempatkan di beberapa rumah guru, dan teman kami yang hancur akibat gempa. Dalam satu hari, saya harus mengkoordinir pemberangkatan, konsumsi, hingga kembalinya tiga truk relawan dari tiga tempat yang berbeda. Sungguh sebuah pekerjaan yang cukup berat namun harus tetap dilaksanakan.
Hari demi haripun berlalu. Kepulihanpun mulai terlihat. Dan Alhamdulillah, traumapun mulai menghilang sedikit demi sedikit. Laporan-laporanpun harus mulai kami kerjakan. Dan Alhamdulillah, bapak kepala sekolah merasa bangga atas hasil kerja keras kami. Kamipun diberi penghargaan.
Saya merasa bahwa ini adalah pengalaman yang paling berharga karena banyak sekali yang bisa saya ambil dari kejadian dan situasi tersebut. Dan salah satu pelajaran yang menurut saya paling berharga adalah bahwa seorang pemimpin tidak akan bisa menjalankan visi dan misi dari apa dan siapa yang dia pimpin tanpa anggota yang bisa mendukungnya sepenuh hati. Dan keberhasilan sebuah tim bukan hanya karena pengaruh pemimpinnya namun juga kerjasama tim yang solid. Dan untuk mencapai sebuah kesuksesan, maka kita harus memiliki visi, motifasi, dan aksi.
Mungkin baru ini yang bisa saya sampaikan mengenai sedikit kisah dan pengalaman hidup saya dalam hal kepemimpinan. Semoga ada hikmah yang bisa kita ambil dari sedikit kisah saya diatas. Terima kasih.
MEMIMPIN ORGANISASI (Ceritanya Kelas Kepemimpinan (11))
Dalam memimpin suatu organisasi banyak hambatan yang dialami, tetapi dilain itu juga mendapatkan banyak pengetahuan dan manfaat tentang pentingnya organisasi dan komunikasi dalam suatu organisasi. Organisasi yang pernah saya pimpin adalah organisasi masyarakat atau Karang Taruna. Dimana saya sebagai ketuanya. Saya sangat merasakan sekali sulitnya untuk menyatukan pendapat, pandangan dan tujuan dalam suatu rapat. Apalagi komunitasnya sangat beragam, semua menjadi satu. Apalagi jika harus menyatukan pendapat untuk mewujudkan suatu tujuan. Semua orang merasa bahwa pendapatnya benar, tidak ada yang mau mengalah, saling bertahan dengan pendapat masing-masing.
Apalagi Karang Taruna ini semuanya anak muda yang mempunyai semangat yang luar biasa. Mereka mempunyai gagasan atau ide yang cemerlang, untuk membangun daerahnya. Tapi kadang ide mereka ditentang atau kurang mendapat apresiasi dari para bapak-bapak atau kelompok dasawisma. Disinilah yang kadang membuat para pemuda menjadi enggan lagi untuk menyampaikan ide mereka. Jika sudah seperti ini sangat sulit untuk memacu mereka agar bersemangat kembali. Anggota Karang Taruna menjadi semakin berkurang dan malas untuk berangkat perkumpulan.
Keadaan yang demikian membuat saya menjadi semakin bingung. Apa yang harus dilakukan untuk membuat mereka, yaitu para pemuda menjadi bangkit dan tidak mudah putus asa. Kadang-kadang jika saya tegas terhadap mereka, mereka malah semakin malas. Tapi saya juga berfikir jika ketegasan itu perlu, untuk membuat mereka semangat lagi. Untuk tetap berkarya dan memunculkan ide-ide baru untuk membangun daerah kami.
Saya juga sering terhalang dengan masalah komunikasi, banyak dari anggota yang tidak berani mengungkapkan pendapat pada saat rapat, sehingga rapat menjadi hening dan tidak mendapatkan hasil. Ada juga dari mereka yang didepan forum setuju dengan suatu keputusan, tapi diluar forum mereka menentang keputusan itu. Kurangnya komunikasi ini membuat suasana menjadi tidak menyenangkan. Saya harus memutar akal, agar suasana rapat menjadi lebih kondusif dan efisien. Serta mendapatkan suatu hasil.
Hambatan lain yang pernah saya alami adalah kurangnya rasa kepercayaan yang diberikan kepada saya selaku ketua, baik itu dari anggota sendiri maupun dari dasawisma. Hal ini yang membuat saya drop, timbul rasa malas dan segan dalam melakukan sesuatu, saya juga jadi berpikir negative. Tapi saya sadar, bahwa semua itu membutuhkan waktu untuk membuat mereka percaya pada kemampuan saya. Dengan berjalannya waktu, semua kepercayaan itu saya dapatkan. Keberhasilan-keberhasilan dalam melakukan suatu perubahan atau menjalankan suatu rencana dengan hasil yang memuaskan. Tapi itu semua juga dapat terlaksana karena kerja tim yang solid dari teman-teman yang mendukung dan percaya pada kemampuan saya.
Selain hambatan tadi saya juga mendapatkan banyak manfaat. Diantaranya saya jadi mengetahui sifat teman-teman saya, saya lebih memahami watak mereka, mempunyai teman yang banyak, belajar berkomunikasi dengan orang banyak, belajar untuk saling memahami dan menghargai pendapat orang lain, dapat membagi tugas dan dapat menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya, dapat membaur dimasyarakat serta masih banyak hal yang saya dapatkan. Dan yang paling penting dengan pernah menjadi pemimpin atau memimpin suatu organisasi saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga.
Apalagi Karang Taruna ini semuanya anak muda yang mempunyai semangat yang luar biasa. Mereka mempunyai gagasan atau ide yang cemerlang, untuk membangun daerahnya. Tapi kadang ide mereka ditentang atau kurang mendapat apresiasi dari para bapak-bapak atau kelompok dasawisma. Disinilah yang kadang membuat para pemuda menjadi enggan lagi untuk menyampaikan ide mereka. Jika sudah seperti ini sangat sulit untuk memacu mereka agar bersemangat kembali. Anggota Karang Taruna menjadi semakin berkurang dan malas untuk berangkat perkumpulan.
Keadaan yang demikian membuat saya menjadi semakin bingung. Apa yang harus dilakukan untuk membuat mereka, yaitu para pemuda menjadi bangkit dan tidak mudah putus asa. Kadang-kadang jika saya tegas terhadap mereka, mereka malah semakin malas. Tapi saya juga berfikir jika ketegasan itu perlu, untuk membuat mereka semangat lagi. Untuk tetap berkarya dan memunculkan ide-ide baru untuk membangun daerah kami.
Saya juga sering terhalang dengan masalah komunikasi, banyak dari anggota yang tidak berani mengungkapkan pendapat pada saat rapat, sehingga rapat menjadi hening dan tidak mendapatkan hasil. Ada juga dari mereka yang didepan forum setuju dengan suatu keputusan, tapi diluar forum mereka menentang keputusan itu. Kurangnya komunikasi ini membuat suasana menjadi tidak menyenangkan. Saya harus memutar akal, agar suasana rapat menjadi lebih kondusif dan efisien. Serta mendapatkan suatu hasil.
Hambatan lain yang pernah saya alami adalah kurangnya rasa kepercayaan yang diberikan kepada saya selaku ketua, baik itu dari anggota sendiri maupun dari dasawisma. Hal ini yang membuat saya drop, timbul rasa malas dan segan dalam melakukan sesuatu, saya juga jadi berpikir negative. Tapi saya sadar, bahwa semua itu membutuhkan waktu untuk membuat mereka percaya pada kemampuan saya. Dengan berjalannya waktu, semua kepercayaan itu saya dapatkan. Keberhasilan-keberhasilan dalam melakukan suatu perubahan atau menjalankan suatu rencana dengan hasil yang memuaskan. Tapi itu semua juga dapat terlaksana karena kerja tim yang solid dari teman-teman yang mendukung dan percaya pada kemampuan saya.
Selain hambatan tadi saya juga mendapatkan banyak manfaat. Diantaranya saya jadi mengetahui sifat teman-teman saya, saya lebih memahami watak mereka, mempunyai teman yang banyak, belajar berkomunikasi dengan orang banyak, belajar untuk saling memahami dan menghargai pendapat orang lain, dapat membagi tugas dan dapat menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya, dapat membaur dimasyarakat serta masih banyak hal yang saya dapatkan. Dan yang paling penting dengan pernah menjadi pemimpin atau memimpin suatu organisasi saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga.
Rabu, 07 Oktober 2009
Kata Pemimpin (2)
Cinta tidak pernah menuntut,
Cinta selalu memberi
Cinta selalu menderita, tanpa pernah meratap,
tanpa pernah mendendam
[Mahatma Gandi]
Cinta selalu memberi
Cinta selalu menderita, tanpa pernah meratap,
tanpa pernah mendendam
[Mahatma Gandi]
Kata Pemimpin (1)
Kebanyakan orang mencari kunci kesuksesan kemana-mana, padahal kalau dirinya tahu, kunci itu menggantung di dalam dirinya
[George Washington Varver]
[George Washington Varver]
KLINIK KEPEMIMPINAN
Dear students,
Bwt m'nunjang kberhasilan kul kepemimpinan kita, sy launch program b'tajuk "KLINIK KEPEMIMPINAN", dmn anda bs share & konsultasikan b'bagai hal tkait dgn persoalan kepemimpinan (p'jalanan hidup) anda, baik melalui media blog ini (open-sharing) maupun t'tutup lgsg ke sy mlalui sms di 0816-169-1650 ato email/YM di satriaegalita@yahoo.com. Sedikit apapun cobalah mjd b'manfaat buat org laen (syukur2 bg orang banyak). Insya Allah dgn bgitu hidup qta akan berasa lbh bmakna...
wassalam,
awan santosa
Bwt m'nunjang kberhasilan kul kepemimpinan kita, sy launch program b'tajuk "KLINIK KEPEMIMPINAN", dmn anda bs share & konsultasikan b'bagai hal tkait dgn persoalan kepemimpinan (p'jalanan hidup) anda, baik melalui media blog ini (open-sharing) maupun t'tutup lgsg ke sy mlalui sms di 0816-169-1650 ato email/YM di satriaegalita@yahoo.com. Sedikit apapun cobalah mjd b'manfaat buat org laen (syukur2 bg orang banyak). Insya Allah dgn bgitu hidup qta akan berasa lbh bmakna...
wassalam,
awan santosa
Cerita Hidupku (Ceritanya Kelas Kepemimpinan (10))
Assalamualaikum.wr.wb
Saya tinggal diwilayah Kulon Progo tepatnya di Desa glagah, Kecamatan Temon, Kabupaten kulon Progo. Tempat saya termasuk daerah tempat wisata walaupun belum terkenel seperti daerah Parangtritis Yogyakarta.
Maaf pak sebenarnya tidak ada yang istimewa dalam hidup saya. Saya termasuk orang yang erasal dari keluarga yang kurang berada. Keluarga saya adalah petani, itupun tidak punya sawah sendiri hanya buruh saja di tempat tetangga atau menyewa saja. Dan alkhamdulilah sebenernya saya termasuk orang yang luar biasa karena bisa kuliah apalagi bisa duduk bareng dengan orang-orang yang sangat luar biasa di perkulihan Mercu Buana ini. Saya sejak SMA sudah bekerja sebagai buruh Tani, saya juga heran ndak tau kenapa milih SMA padahal keinginan orang tua saya dulu masuk STM dan biasanya sudah laku bekerja. Tetapi ya itulah jalan hidup yang tidak terduga.
Kemudian saya melanjutkan kuliah di D3 itupun juga tidak terduga kalau saya ambil kuliah, selama 3,5 tahun saya jalani kuliah naik motor dengan jarak 45 KM dari rumah sampai kampus. Karena kebetulan bapak saya sudah beli motor walaupun 2nd.Dan pada musim tertentu (kemarau) menanam palawija sendiri walaupun sedikit, sawah milik tetangga dan hasilnya dibagi sama yang punya sawah, ya itung- itung buat tambahan kuliah kalu berhasil, kalu bangkrut (gagal panen) ya minta orang tua. Dan alkhamdulillah kuliah saya dapat selesai. Saya lulus kuliah tahun 2006, kemudian saya bekerja di salah satu perusahaan swasta di jogja sebagai tenaga administratif, sampai sekarang. Dan karena merasa bahwa pendidikan itu penting maka saya masuk tahun 2009 ini untuk melanjtkan ke S1. dengan biaya sendiri tentunya.
Demikian pak perjalanan hidup saya sampai saat ini. Sekali lagi tidak ada yang istimewa, mungkin banyak orang yang seperti saya bahkan lebih tetapi saya sudah sangat bersyukur sekali kepada_NYA, dan sebenarnya saya merasa malu juga bareng-bareng kuliah dengan senior-senior yang mayoritas mereka sudah sukses semua. Sekian, ada kurang lebihnya mohon maaf . Terima kasih.
Wasalamualaikum wr.wb.
Saya tinggal diwilayah Kulon Progo tepatnya di Desa glagah, Kecamatan Temon, Kabupaten kulon Progo. Tempat saya termasuk daerah tempat wisata walaupun belum terkenel seperti daerah Parangtritis Yogyakarta.
Maaf pak sebenarnya tidak ada yang istimewa dalam hidup saya. Saya termasuk orang yang erasal dari keluarga yang kurang berada. Keluarga saya adalah petani, itupun tidak punya sawah sendiri hanya buruh saja di tempat tetangga atau menyewa saja. Dan alkhamdulilah sebenernya saya termasuk orang yang luar biasa karena bisa kuliah apalagi bisa duduk bareng dengan orang-orang yang sangat luar biasa di perkulihan Mercu Buana ini. Saya sejak SMA sudah bekerja sebagai buruh Tani, saya juga heran ndak tau kenapa milih SMA padahal keinginan orang tua saya dulu masuk STM dan biasanya sudah laku bekerja. Tetapi ya itulah jalan hidup yang tidak terduga.
Kemudian saya melanjutkan kuliah di D3 itupun juga tidak terduga kalau saya ambil kuliah, selama 3,5 tahun saya jalani kuliah naik motor dengan jarak 45 KM dari rumah sampai kampus. Karena kebetulan bapak saya sudah beli motor walaupun 2nd.Dan pada musim tertentu (kemarau) menanam palawija sendiri walaupun sedikit, sawah milik tetangga dan hasilnya dibagi sama yang punya sawah, ya itung- itung buat tambahan kuliah kalu berhasil, kalu bangkrut (gagal panen) ya minta orang tua. Dan alkhamdulillah kuliah saya dapat selesai. Saya lulus kuliah tahun 2006, kemudian saya bekerja di salah satu perusahaan swasta di jogja sebagai tenaga administratif, sampai sekarang. Dan karena merasa bahwa pendidikan itu penting maka saya masuk tahun 2009 ini untuk melanjtkan ke S1. dengan biaya sendiri tentunya.
Demikian pak perjalanan hidup saya sampai saat ini. Sekali lagi tidak ada yang istimewa, mungkin banyak orang yang seperti saya bahkan lebih tetapi saya sudah sangat bersyukur sekali kepada_NYA, dan sebenarnya saya merasa malu juga bareng-bareng kuliah dengan senior-senior yang mayoritas mereka sudah sukses semua. Sekian, ada kurang lebihnya mohon maaf . Terima kasih.
Wasalamualaikum wr.wb.
Perjalanan Hidupku (Ceritanya Kelas Kepemimpinan (9))
Saya di lahirkan di kota jogja. Keluarga saya adalah keluarga yang sederhana. Keluarga saya mulai hidup benar- benar dari nol. Tetapi keluarga saya selalu berusaha untuk selalu hidup yang lebih baik. Karena kesabaran dan kegigihan orang tua saya alhamdulillah mereka bisa menyekolahkan saya. Dulu saya berumur 4,5 tahun sudah mulai masuk sekolah. Saya duduk di bangku TK selama 2 tahun. Umur 6,5 tahun saya mulai masuk SD. Saya dulu sempat hampir tidak dinaikkan kelas karena saya dirasa masih terlalu muda oleh orang tua saya, tetapi karena guru saya berkata kalau saya sudah bisa mengikuti pelajarannya , akhirnya saya dinaikkan kekelas 2. Enam tahun berlalu saya lalui di sekolah dasar.
Saat saya masuk SMP, 2 hari sebelum melakukan ujian masuk SMP saya mendapatkan musibah. Tetapi saya menerimanya dengan sabar dan menjalani ujian dengan lancar. Akhirnya waktu pengumumanpun telah tiba dan sayapun langsung melihat penguman itu dan akhirnya saya bisa diterima di SMP yang saya inginkan. Saya bersyukur bisa masuk di SMP. Saya menjalani sekolah di SMP dengan penuh semangat, sampai akhirnya saya bisa ikut kejuaraan sepak takraw. Saya berjuang dengan teman- teman saya dan hasilnyapun sangat membanggakan bagi sekolah dan orang tua kami. Tiga tahun berlalu saya bersama teman –teman menjalani sekolah di SMP dan ujian akhirpun tiba. Saya saat itu juga mendapatkan cobaan, karena saat hari ketiga ujian saya jatuh sakit. Saya sangat kaget ketika melihat pengumuman karena hasilnya tidak memuaskan. Nilai mtematika saya hampir tidak memenuhi target. Tetapi saya masih bisa bersyukur karena saya bisa lulus.
Akhirnya, saya melanjutkan ke SMA. Saya mulai duduk dibangku kelas 1. Saya mulai memberanikan untuk menjadi atau mengikuti OSIS. Di kelas 1 ini saya hanya menjabat sebagai anggota dan bidang yang saya pegang adalah bidang olahraga. Nah, saat itu tibalah waktu akhir semester dan saya harus menyiapkan berbagai lomba ke olahragaan. Saya dituntut oleh guru pembimbing saya untuk bisa menjadi seorang pemimpin. Disitulah saya benar – benar mulai belajar sebagai seorang pemimpin. Saya juga pernah mengikuti seminar di SKB bantul selama 3 hari bersama 3 teman saya. Di situ saya bersama ketiga teman saya dibagi menjadi 3 kelompok dan kitapun ber jalan sendiri- sendiri. Disaat mengadakan diskusi saya mencoba selalu menjadi yang terbaik, itupun saya menuai hasil sehingga saya bisa memberi pengarahan kepada teman – teman saya di sekolah kami tentang kesehatan reproduksi yang saya dapat saat saya mengikuti seminar itu. Saat duduk di kelas 2, saya menjabat sebagai sekretaris di keanggotaan OSIS. Saya menjalankan tugas itu dengan baik dan lancar. Akhirnya saya melanjutkan ke bangku kelas 3 SMA.. Disaat awal masuk, kedua orang tua saya mengalami kesulitan ekonomi. Orang tua saya hanya bekerja wiraswasta. Saat itu saya sudah 5 bulan tidak dapat melunasi uang SPP saya. Saya berpikir bagaimana saya harus bisa melunasi tunggakan itu. Karena di tengah semester jika tidak melunasi saya tidak boleh mengikuti ujian semester. Saya sudah bingung dan takut kalau sampai tidak bisa mengikuti ujian itu. Akhirnya saya berpikir bagaimana kalau saya mengajukan beasiswa. Setelah menunggu sekitar 1 bulan saya mendapatkan berita bahwa di kelas 3 saya dibebaskan dari semua biaya apapun. Saya sangat bahagia karena semua itu tidak saya duga sebelumnya.
Akhirnya saya dapat mengikuti ujian itu bersama teman- teman saya. Saya benar- benar bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan semuanya kepada saya. Satelah itu, di semester II saya mulai ikut teman menjual pulsa. Sejak saat itu saya sekolah sambil berjualan pulsa sebagai sampingan. Awalnya saya takut kena marah oleh guru, tetapi saya selalu memberanikan diri untuk berusaha. Akhirnya ujian sekolah tiba dan saya diberikan kelancaran dalam mengerjakan ujian akhir sekolah. Saya lulus dengan nilai yang pas- pasan. Tetapi saya bangga bisa membuat hati orang tua saya senang. Saya tidak menyangka bahwa sekolah meminta saya untuk menandatangani slip beasiswa di akhir kelas 3. Saya menerima uang itu dan saya berikankan kepada orang tua saya. Begitu senangnya orang tua saya menerima semua itu karena dapat digunakan untuk membiayai adikku. Setelah lulus saya mempunyai prinsip harus bisa kuliah, tetapi bagaimana saya bisa membayar kuliah saya, sedangkan orang tua saya masih membiayai adik saya. Akhirnya saya mencari pekerjaan dan mendapatkan pekerjaan disebuah perusahaan swasta PT SSI. Saya bekerja di perusahaan itu harus menanggung risiko yang besar, setiap hari saya membawa banyak uang dan yang paling saya takuti adalah perampok. Kejadian yang di Muntilan itu saya pakai sebagai pelajaran dan pengalaman bagaimana kita harus bekerja keras mencari uang.
Setelah satu tahun bekerja saya memutuskan untuk kuliah, akhirnya saya dapat masuk di UMBY. Jadi prinsip saya dari awal sudah tercapai yaitu bisa bekerja dan meneruskan sekolah lagi. Tetapi itu semua tidak lepas dari kita selalu berdo’a, berusaha, bersahabat, bekerja keras, jangan pernah putus asa, dan melatih diri saya untuk menjadi seorang pemimpin dalam hidup saya.
Saat saya masuk SMP, 2 hari sebelum melakukan ujian masuk SMP saya mendapatkan musibah. Tetapi saya menerimanya dengan sabar dan menjalani ujian dengan lancar. Akhirnya waktu pengumumanpun telah tiba dan sayapun langsung melihat penguman itu dan akhirnya saya bisa diterima di SMP yang saya inginkan. Saya bersyukur bisa masuk di SMP. Saya menjalani sekolah di SMP dengan penuh semangat, sampai akhirnya saya bisa ikut kejuaraan sepak takraw. Saya berjuang dengan teman- teman saya dan hasilnyapun sangat membanggakan bagi sekolah dan orang tua kami. Tiga tahun berlalu saya bersama teman –teman menjalani sekolah di SMP dan ujian akhirpun tiba. Saya saat itu juga mendapatkan cobaan, karena saat hari ketiga ujian saya jatuh sakit. Saya sangat kaget ketika melihat pengumuman karena hasilnya tidak memuaskan. Nilai mtematika saya hampir tidak memenuhi target. Tetapi saya masih bisa bersyukur karena saya bisa lulus.
Akhirnya, saya melanjutkan ke SMA. Saya mulai duduk dibangku kelas 1. Saya mulai memberanikan untuk menjadi atau mengikuti OSIS. Di kelas 1 ini saya hanya menjabat sebagai anggota dan bidang yang saya pegang adalah bidang olahraga. Nah, saat itu tibalah waktu akhir semester dan saya harus menyiapkan berbagai lomba ke olahragaan. Saya dituntut oleh guru pembimbing saya untuk bisa menjadi seorang pemimpin. Disitulah saya benar – benar mulai belajar sebagai seorang pemimpin. Saya juga pernah mengikuti seminar di SKB bantul selama 3 hari bersama 3 teman saya. Di situ saya bersama ketiga teman saya dibagi menjadi 3 kelompok dan kitapun ber jalan sendiri- sendiri. Disaat mengadakan diskusi saya mencoba selalu menjadi yang terbaik, itupun saya menuai hasil sehingga saya bisa memberi pengarahan kepada teman – teman saya di sekolah kami tentang kesehatan reproduksi yang saya dapat saat saya mengikuti seminar itu. Saat duduk di kelas 2, saya menjabat sebagai sekretaris di keanggotaan OSIS. Saya menjalankan tugas itu dengan baik dan lancar. Akhirnya saya melanjutkan ke bangku kelas 3 SMA.. Disaat awal masuk, kedua orang tua saya mengalami kesulitan ekonomi. Orang tua saya hanya bekerja wiraswasta. Saat itu saya sudah 5 bulan tidak dapat melunasi uang SPP saya. Saya berpikir bagaimana saya harus bisa melunasi tunggakan itu. Karena di tengah semester jika tidak melunasi saya tidak boleh mengikuti ujian semester. Saya sudah bingung dan takut kalau sampai tidak bisa mengikuti ujian itu. Akhirnya saya berpikir bagaimana kalau saya mengajukan beasiswa. Setelah menunggu sekitar 1 bulan saya mendapatkan berita bahwa di kelas 3 saya dibebaskan dari semua biaya apapun. Saya sangat bahagia karena semua itu tidak saya duga sebelumnya.
Akhirnya saya dapat mengikuti ujian itu bersama teman- teman saya. Saya benar- benar bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan semuanya kepada saya. Satelah itu, di semester II saya mulai ikut teman menjual pulsa. Sejak saat itu saya sekolah sambil berjualan pulsa sebagai sampingan. Awalnya saya takut kena marah oleh guru, tetapi saya selalu memberanikan diri untuk berusaha. Akhirnya ujian sekolah tiba dan saya diberikan kelancaran dalam mengerjakan ujian akhir sekolah. Saya lulus dengan nilai yang pas- pasan. Tetapi saya bangga bisa membuat hati orang tua saya senang. Saya tidak menyangka bahwa sekolah meminta saya untuk menandatangani slip beasiswa di akhir kelas 3. Saya menerima uang itu dan saya berikankan kepada orang tua saya. Begitu senangnya orang tua saya menerima semua itu karena dapat digunakan untuk membiayai adikku. Setelah lulus saya mempunyai prinsip harus bisa kuliah, tetapi bagaimana saya bisa membayar kuliah saya, sedangkan orang tua saya masih membiayai adik saya. Akhirnya saya mencari pekerjaan dan mendapatkan pekerjaan disebuah perusahaan swasta PT SSI. Saya bekerja di perusahaan itu harus menanggung risiko yang besar, setiap hari saya membawa banyak uang dan yang paling saya takuti adalah perampok. Kejadian yang di Muntilan itu saya pakai sebagai pelajaran dan pengalaman bagaimana kita harus bekerja keras mencari uang.
Setelah satu tahun bekerja saya memutuskan untuk kuliah, akhirnya saya dapat masuk di UMBY. Jadi prinsip saya dari awal sudah tercapai yaitu bisa bekerja dan meneruskan sekolah lagi. Tetapi itu semua tidak lepas dari kita selalu berdo’a, berusaha, bersahabat, bekerja keras, jangan pernah putus asa, dan melatih diri saya untuk menjadi seorang pemimpin dalam hidup saya.
Selasa, 06 Oktober 2009
Memimpin Diri Sendiri (Ceritanya Kelas Kepemimpinan (8))
Ass.
Mulai cerita nih.
Saya akan menceritakan pengalaman hidup saya.
Masa-masa sulit, dimana pada waktu itu saya masih bersekolah di sebuah SMK. Memang rasanya benar-benar terpuruk.
Singkat cerita, ketika UAN selesai, dimana siswa-siswa sedang diambang kekalutan antara lulus atau tidak. Saya dan teman-teman terdekat tentunya juga sangat kalut peda masa-masa itu. Tapi saya memberanikan diri saya menjadi motivator bagi teman-teman saya. Memang sulit rasanya berdiri di antara orang-orang yang bimbang menentukan masa depan, sedangkan saya sendiri juga sedang dalam keadaan yang yidak pasti.
Tepat tanggal 16 Juni 2009, kejadian yang memang benar-benar diluar dugaan saya, teman-teman , guru-guru dan tentunya keluarga saya. Amplop yang berisikan tulisan “BELUM LULUS” saya dapatkan. Ingin marah rasanya, karena perjuangan saya belajar seprtinya sia-sia.
Ini menjadi pengalaman berarti bagi saya. Dimana setelah saya berjuang keras, namun akhirnya jatuh pada suatu waktu, dimana pada saat itu mungkin saka siswa-siswa lain merayakan hari kebebasan mereka dari masa sekolah.
Tapi, setelah itu saya benar-benar berfikir keras lagi, bagaimana caranya agar saya bisa menjadi seseorang yang pantang menyerah. Akhirnya saya menanamkan prinsip itu pada diri saya sampai sekarang ini. Dan nantinya saya harus menjadi seorang pemimpin walaupun pemimpin bagi diri saya sendiri.
Saya yakin dan percaya bahwa Allah tidak akan pernah memberikan ujian yang berat kepada hambanya jika hambanya tidak mampu menyelesaikannya. Tetap bersyukur, ikhlas dan optimis membuat saya sampai saat ini tetap bersemangat.
Dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan. Saya yakin Allah akan memberikan yang terbaik untuk saya.
Sedikit lirik lagu dari band favorit saya, yang membuat saya tetap bersemangat untuk mengejar dan meraih mimpi-mimpi saya.
“Ya..ya.. kita kan terus berlari..
Ya..ya.. tak kan berhenti disini
Ya..ya.. larilah meraih mimpi, hingga nafas tlah berhenti..”
( J-Rocks _ Meraih Mimpi )
Mulai cerita nih.
Saya akan menceritakan pengalaman hidup saya.
Masa-masa sulit, dimana pada waktu itu saya masih bersekolah di sebuah SMK. Memang rasanya benar-benar terpuruk.
Singkat cerita, ketika UAN selesai, dimana siswa-siswa sedang diambang kekalutan antara lulus atau tidak. Saya dan teman-teman terdekat tentunya juga sangat kalut peda masa-masa itu. Tapi saya memberanikan diri saya menjadi motivator bagi teman-teman saya. Memang sulit rasanya berdiri di antara orang-orang yang bimbang menentukan masa depan, sedangkan saya sendiri juga sedang dalam keadaan yang yidak pasti.
Tepat tanggal 16 Juni 2009, kejadian yang memang benar-benar diluar dugaan saya, teman-teman , guru-guru dan tentunya keluarga saya. Amplop yang berisikan tulisan “BELUM LULUS” saya dapatkan. Ingin marah rasanya, karena perjuangan saya belajar seprtinya sia-sia.
Ini menjadi pengalaman berarti bagi saya. Dimana setelah saya berjuang keras, namun akhirnya jatuh pada suatu waktu, dimana pada saat itu mungkin saka siswa-siswa lain merayakan hari kebebasan mereka dari masa sekolah.
Tapi, setelah itu saya benar-benar berfikir keras lagi, bagaimana caranya agar saya bisa menjadi seseorang yang pantang menyerah. Akhirnya saya menanamkan prinsip itu pada diri saya sampai sekarang ini. Dan nantinya saya harus menjadi seorang pemimpin walaupun pemimpin bagi diri saya sendiri.
Saya yakin dan percaya bahwa Allah tidak akan pernah memberikan ujian yang berat kepada hambanya jika hambanya tidak mampu menyelesaikannya. Tetap bersyukur, ikhlas dan optimis membuat saya sampai saat ini tetap bersemangat.
Dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan. Saya yakin Allah akan memberikan yang terbaik untuk saya.
Sedikit lirik lagu dari band favorit saya, yang membuat saya tetap bersemangat untuk mengejar dan meraih mimpi-mimpi saya.
“Ya..ya.. kita kan terus berlari..
Ya..ya.. tak kan berhenti disini
Ya..ya.. larilah meraih mimpi, hingga nafas tlah berhenti..”
( J-Rocks _ Meraih Mimpi )
Minggu, 04 Oktober 2009
PENGALAMAN KEPEMIMPINAN (Ceritanya Kelas Kepemimpinan (7))
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Semoga dalam sekelumit cerita ini kita dapat memetik hikmah dan menuai manfaat. Amiin.
Keyakinan adalah awal dari tercapainya keinginan. Minimal,dengan keyakinan akan timbul harapan dan usaha untuk mencapainya.
Kisah ini terjadi di sekitar bulan Februari'09 sampai dengan pertengahan Mei'09 kemarin. Dimana saya masih bekerja pada sebuah perusahaan manufactur produk perlengkapan kesehatan rumah tangga di Yogyakarta, di bawah sebuah Group. Produk pokok kami adalah deterjen. Alhamdulillah, disana saya sebagai staf keuangan. Mungkin sedikit mengherankan bagaimana bisa saya dapat menempati posisi tersebut jika dilihat dari latar belakang saya. Perusahaan ini bukan punya saya maupun keluarga. sejarahnya panjang. maaf yaa..kalau saya ceritakan disini butuh waktu 3 hari 3 malam. capek dong .
Ceritanya berawal dari dimana keadaan perusahaan tidak dapat memberikan hasil yang maksimal, karena adanya konflik - konflik internal pemegang saham. Juga dikarenakan tidak fokusnya pimpinan yang saat itu juga menangani usaha lain yang lebih besar, namun tidak mau mengamanahkan kepemimpinannya kepada pihak lain. Sebagai seorang karyawan, kewajiban saya untuk mengingatkan sudah sering saya lakukan. Tapi kembali lagi, kadang orang yang merasa lebih tinggi, entah jabatan, ilmu, atau usia sungkan untuk menerima masukan dari orang yang ada dibawahnya. Walau akhirnya saya mendapat kepercayaan penuh untuk menjalankan roda perusahaan, meski segalanya sudah mulai terlambat dengan sejarah yang cukup panjang juga.
Produksi perusahaan dari tahun 2006 - 2008 mengalami gejolak naik turun, dan mengalami penurunan yang cukup signifikan di awal - awal 2009. Bagian pemasaran yang menjadi ujung tombak perusahaan tidak dapat melakukan sesuatu yang cukup berarti karena kejenuhan dengan manajemen perusahaan.
Sebenarnya sebagai seorang staf keuangan,saya tidak mempunyai kewajiban untuk terjun di pemasaran. Tapi, bukankah jika suatu pekerjaan dilakukan bersama - sama akan terasa lebih ringan?bahkan kita dapat menambah ilmu sesuatu yang belum pernah kita tau. Apalagi staf - staf pemasaran disana sudah seperti saudara untuk saya. Jadi meski saya sebagai staf keuangan yang harus berada di kantor, saya berusaha membantu disela waktu luang saya, meski minimal by phone.
Setidaknya saya masih punya harapan untuk bangkit. Saya ajak teman - teman saya untuk bangkit. Tunjukan meski tanpa seorang pemimpin kita bisa maju, karena sebenarnya kita juga seorang pemimpin. Pemimpin bagi diri sendiri. Mau maju, itu tergantung kita. Akhirnya ditengah keterpurukan, kita mencoba untuk bertahan. Untuk sekedar tau, saya dan teman itu ada sejak sebelum perusahaan berdiri. Jadi, jika kami semua ini harus berakhir,kami ingin kami ada dalam ikhtiarnya dan dapat berusaha semaksimal mungkin sebelum meliht kehancurannya.
Di bulan Februari itulah saya mulai benar - benar terjun, hingga serasa pimpinan perusahaan itu adalah saya. Relasi dari luar pun tahunya direktur perusahaan itu adalah saya. Masya'Allah...
di bual Februari itu saya mencoba membuka wilayah pemasaran baru. Kami mencoba membuat penawaran ke berbagai instansi. Sebagai ikhtiar, jika diterima syukur Alhamdulillah. Tapi jika tidak, mungkin belum rejekinya. Ikhtiar saya mungkin kurang keras. Dan saya yakin Insya'Allah, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Usaha kami ini ternyata tidak menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Disinilah saya niat awalnya ikhtiar coba - coba. Saya telepon salah seorang teman saya yang ada di daerah pedalaman di Labuhan Batu, Sumatra Utara sebut saja namanya Hamid. Nomor itupun saya minta dari seorang teman sebut saja namanya kholil, karena saya sudah tidak menyimpan nomor Hamid. Karena Hamid adalah seorang laki - laki, jadi memang saya tidak terlalu dekat dengan beliau. Hanya saja kami pernah kenal dan kerjasama. Singkat cerita,saya silaturahim Hamid lewat telepon. Yang berkhir dengan penawaran pemasaran produk kami disana. Janji Allah benar adanya. Silaturahim dapat membukakan pintu rizki. Allah mengganti rejeki kami dengan yang lebih baik.
Singkatnya, Pertengahan Februari sampai maret terjadi negosiasi antara saya dan hamid setelah saya kirim sample produk dan penawaran kesana. Kami diskusikan soal kualitas, harga, kemasan, dan banyak hal yang berhubungan dengan produk kami. Tapi saat itu saya sengaja untuk tidak memberitahukan terang - terangan ke teman - teman yang lain,karena saya pikir sebelum adanya kontrak kerjasama maka kerjasama ini belum terjadi. Saya tidak ingin teman - teman kecewa jika ternyata kerjasama ini tidak dapat terjalin sesuai harapan. Setelah melewati proses yang cukup berbelit, akhirnya kontrak kerjasama pemesanan 6 ton deterjen itu dapat dibuat. Saya sebut cukup berbelit karena kerjasama ini dapat terjalin dengan jaminan Hamid di pihak perusahaan Sumatra dan saya sebagai jaminan di pihak Yogya. Sebagai tanda jadi, Hamid telah mengirimkan DP sebesar 20jt kepada saya. Jika salah satu dari kami tidak amanah, maka kami berdua akan sama - sama masuk penjara. Perwakilan dari Sumatera ditunjuklah Kholil. Perwakilan dari Yogya adalah saya. Karena saat itu, semua pimpinan tidak ada ditempat, ada masalah - masalah yang harus mereka selesaikan tanpa saya tahu apa masalahnya. Ditunjuklah saya oleh pimpinan untuk mengampu tender saya sendiri ini. Jadi semua urusan terjadi antara kholil dan saya.
Dengan semangat yang harus selalu kami hadirkan, kami berusaha untuk bangkit. Saya mulai atur jadwal pembelian bahan baku, rencana produksi, pengajuan anggaran pembelanjaan, dsb. Terjadi keanehan disini. ketika pimpinan tahu saya pegang uang cash 20jt, tiba - tiba beliau sering datang kekantor menanyakan proses kerja saya untuk Sumut ini. Dan hari itu, kamis beliau meminjam sebagian uang DP untuk keperluan usaha sektor lain dengan janji hari senin akan dikembalikan. Dengan jaminan kendaraan beliau jika ternyata beliau tidak dapat mengembalikan. Ditengah kegalauan antara memberi dan tidak, beliau begitu memaksa. Sedangkan uang itu sudah terhitung secara matang sebagai DP untuk pemesanan bahan - baku dan keperluan lain berkaitan dengan pengadaan produk. Dan seharusnya minggu depan perusahaan juga harus mengeluarkan dana untuk penyelesaian pesanan. Saat itu dengan harap - harap cemas, saya berusaha untuk berbaik sangka. Akhirnya tibalah hari dimana kecemasan sya menjadi kenyataan. Kendraan yang dijadikan jaminan telah dijual, dana anggaran tidak keluar, dan yang lebih menyakitkan adalah semua atasan tidak ada yang menampakkan batang hidungnya beberapa lama. Masalah yang saya tidak tahu itu ternyata kekacauan di keuangan hingga posisi minus. Dikantor hanya tinggal 2 orang disektor deterjen. Staf pabrik 6 orang. Ya Allah, apa kami sanggup?.
Saat ada pesanan 6 ton deterjen, bahan baku tidak mencukupi. Untuk pembuatan 1 ton pun tidak bisa. Dana dari perusahaan nol. Jika ditanya bagaimana rasanya,entahlah. Sedih, kecewa, marah, bingung, khawatir semua bercampur menjadi satu. Jika saya orang kaya, mungkin saya tidak akan sepanik ini. Tapi tidak. Saya bukan orang kaya yang punya banyak simpanan. Ditengah kebingungan saya, saya harus segera mengambil sikap. Karena saya juga berlomba dengan waktu. Saya tidak boleh berdiam diri untuk menyesali keadaan. Saya yakin, didalam suatu masalah pasti ada jalan keluar. Ditengah ujian pasti ada hikmah yang luar biasa indah dari Allah SWT. Semua makhluk tidak ada yang bisa memberi bantuan yang cukup berarti. Diujung keterpurukan, Khalik lah tujuan saya. Antara harapan dan keputusasaan. Ya Allah, tidak ada yang dapat menjadi penolong melainkan Engkau. Engkau Maha Penolong dan sebaik - baik penolong. Tolonglah aku ya Allah..
Bismillah.. Saya harus tetap berusaha semampu saya. Selanjutnya, biarlah Allah yang menyelesaikannya. Disini karena saya yang berperan, saya yang jalan. Saya telepon kesana - kesini. Saya pergi kesana - kemari. Pesan plastik, cari yang cocok dari satu toko ke toko lain. Uang DP yang tersisa saya gunakan untuk pemesanan plastik kemasan dan karton box dimana itu harus cash. Uang ditangan saya tinggal 5jt, padahal saya belum dapat bahan baku. Ya Allah, aku yakin Engkau selalu ada ditengah kesulitanku. Bismillah, dengan modal 5jt ditangan saya mencoba mencari masukan kepada salah seorang teman suplier bahan baku yang kebetulan beliau juga mempunyai perusahaan yang bergerak dibidang yang sama. Saya utarakan semua masalah yang terjadi. Tanpa saya duga,Allah menunjukkan jalan keluarnya. Kebetulan beliau baru saja membeli bahan baku yang belum akan digunakan. Beliau bersedia untuk membantu masalah pengadaan bahan baku dengan seberapapun uang yang saya punya. Kekurangannya setelah kerjasama saya selesai. Subhanallah, saya mendapat 5,5 ton bahan bahan baku yang saya perlukan.
Masalah pertama telah teratasi. Masalah kedua adalah pencetakan kemasan. Tanpa uang sepeserpun. Ya Allah, bagaimana lagi ini. Kemasan, seperti biasa saya masukan ke percetakan langganan saya. Dengan sangat berhati - hati dalam berkata, berharap - harap cemas, saya bicara dengan pemilik percetakan. Saya utarakan permasalahan yang saya hadapi dengan harapan saya mendapat keringanan pembayaran dengan cicilan. Tapi Subhanallah, beliau justru bersedia membantu saya berpacu dengan waktu menyelesaikan kemasan dengan tidak membebankan masalah pembayaran kepada saya. Jika saya sudah punya uang, saya baru bayar ke beliau. Dalam hati ini tak hentinya mengucap syukur. Sesungging senyumpun kian lebar menghiasi bibir ini.
Ketika semua telah berjalan sesuai rencana, ada masalah yang hampir saja terlupakan. Pengiriman ke Sumut bagaimana?. Pengiriman kesana melalui ekspedisi. Karena 1 truk untuk muatan produk kita semua, maka saya dikenakan biaya sebesar 10jt. Bagaimana lagi ini?. Negosiasipun terjadi. Awalnya di telepon. Salah seorang pengurus ekspedisi ingin ketemu saja dengan saya langsung. Rencananya sya yang akan ke Magelang. Tapi bapak itu minta dia saja yang akan silaturahim ke Yogya. Sampai, di suatu hari kami betemu dikantor saya. Saya dengan teman, beliau juga dengan temannya. Ternyata beliau adalah pemilik ekspedisi itu sendiri. Dan ternyata beliau orangnya juga bersifat sangat ramah dan terbuka. Kami ngobrol, bicara soal pengalaman perjalan ke Sumatra, bagaimana buasnya jalanan lintas Sumatra. Sampai diputuskan berapa dan kapan kami harus membayar. Diluar dugaan, beliau mempersilahkan kami untuk membayar DP berapapun yang kami mampu. Sisanya jika barang sudah sampai ditempat tujuan, dan sudah dilunasi. Ya Allah, engkau lembutkan hatinya dan Engkau atur lisannya untuk membantuku ya Allah. Subhanallah...saya tak tahu lagi harus berkata apa selain syukur. Tapi, uang DP darimana?. Tanpa diduga, suatu pagi seorang teman kantor saya memberikan seberkas kertas kepada saya dan bilang bahwa beliau minta maaf tidak dapat membantu banyak. Setelah saya lihat, ternyata yang diberikan adalah BPKB kendaraan beliau. Saya diperkenankan menjadikan jaminan untuk pengadaan dana. Ada rasa sesak dalam dada ini. Antar sedih dan bahagia. Bismillah, dengan ketulusannya ya Allah akan saya gunakan sebaik mungkin. Dengan BPKB di tangan, kegundahanpun tak juga hilang. Kalau BPKB ini masuk kepegadaian, saya tidak mungkin mendapat uang sebesar 4jt yang akan saya gunakan sebagai DP dan biaya perjalanan teman yang saya minta akan ikut ke Sumut. Bukannya kami tak percaya dengan ekspedisi. Tapi kami hanya lebih berhati - hati dengan jerih payah dan pengorbanan yang kami keluarkan selama ini. Jangan dikira teman saya itu naik pesawat atau bus. Dia ikut naik truk bersama ekspedisi untuk menghemat biaya. Pengorbanan yang harus kami buat lagi. Dengan harapan yang masih tersisa, saya datangi teman dengan membawa BPKB itu. Rasa malu yang menggelayuti pikiran, saya pendam dengan memikirkan apa yang akan terjadi jika saya tidak memperoleh uang itu. Atas dasar ingin membantu, ternyata teman saya bersedia untuk meminjamkan 4jt itu. Maka 3jt untuk DP ekspedisi dan 1jt untuk bekal teman ke Sumut.
Semua berpacu dengan waktu. Tenaga, pikiran, total kami curahkan agar semua selesi tepat waktu. Alhamdulillah, 1 April 2009 pesanan siap diantar. Ekspedisipun siap berangkat. Selama di perjalanan lintas Sumatera, ketika sempat, maka teman saya harus mengabari saya terus. Kominikasi jangan sampai putus. Selama teman saya belum kembali dari Sumatera, saya tidak dapat tenang. Harap cemas selalu menggelayuti. Ya Allah, mudahkanlah. Sampai dihari ke empat, teman saya mengabarkan bahwa barang sudah diterima dan esok pagi pembayaran akan segera ditransfer.
Esok pagi setelah ditelepon bahwa uang sudah ditransfer, maka segera saya bergegas ke bank untuk mengecek. Subhanallah,kini uang sudah ada ditangan. Langsung hari itu saya tarik dan saya lunasi semua tanggungan saya. Bahagianya hati ini ketika masalah ini bisa saya selesaikan. Terima kasih banyak ya Allah. Semua rasanya plong. Sekarang kekhawatiran saya hanya menunggu kedatangan teman saya dari Sumut. Setelah beliau datang, lengkap sudah kebahagiaan saya. Akhir Mei yang indah.
Untuk semua orang yang telah membantu saya, semoga Allah membalas semua kebaikan kalian dengan kebaikan yang lebih sempurna. Amiin.
Saya merasa, kepemimpinan timbul bukan hanya karena sikap mental dan pola pikir. Namun keadaan, terjepit dalam suatu masalah, juga mempengaruhi kita untuk memiliki atau segera mengambil sikap sebagai seorang pemimpin. .
Keyakinan adalah kunci utama. Dan... tetap semangat !!!
Pengiriman kami ke Sumut sebenarnya membuka jalan kita ke wilayah lain. Tapi Mungkin Allah berkehendak lain. Awal Juni, pusat group kami ada masalah. Hingga akhirnyapertengahan Juni menjadi hari terakhir dimana kami masih bisa masuk kerja. Terima kasih ya Allah, Engkau memberikan pengalaman yang berharga dan kenangan terindah sebagai pemersatu persaudaraan diantara kami hingga saat ini, meski raga kami saat ini sudah tidak pernah bertatap.
Terima kasih Pak Awan atas kesempatan berceritanya...
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
Semoga dalam sekelumit cerita ini kita dapat memetik hikmah dan menuai manfaat. Amiin.
Keyakinan adalah awal dari tercapainya keinginan. Minimal,dengan keyakinan akan timbul harapan dan usaha untuk mencapainya.
Kisah ini terjadi di sekitar bulan Februari'09 sampai dengan pertengahan Mei'09 kemarin. Dimana saya masih bekerja pada sebuah perusahaan manufactur produk perlengkapan kesehatan rumah tangga di Yogyakarta, di bawah sebuah Group. Produk pokok kami adalah deterjen. Alhamdulillah, disana saya sebagai staf keuangan. Mungkin sedikit mengherankan bagaimana bisa saya dapat menempati posisi tersebut jika dilihat dari latar belakang saya. Perusahaan ini bukan punya saya maupun keluarga. sejarahnya panjang. maaf yaa..kalau saya ceritakan disini butuh waktu 3 hari 3 malam. capek dong .
Ceritanya berawal dari dimana keadaan perusahaan tidak dapat memberikan hasil yang maksimal, karena adanya konflik - konflik internal pemegang saham. Juga dikarenakan tidak fokusnya pimpinan yang saat itu juga menangani usaha lain yang lebih besar, namun tidak mau mengamanahkan kepemimpinannya kepada pihak lain. Sebagai seorang karyawan, kewajiban saya untuk mengingatkan sudah sering saya lakukan. Tapi kembali lagi, kadang orang yang merasa lebih tinggi, entah jabatan, ilmu, atau usia sungkan untuk menerima masukan dari orang yang ada dibawahnya. Walau akhirnya saya mendapat kepercayaan penuh untuk menjalankan roda perusahaan, meski segalanya sudah mulai terlambat dengan sejarah yang cukup panjang juga.
Produksi perusahaan dari tahun 2006 - 2008 mengalami gejolak naik turun, dan mengalami penurunan yang cukup signifikan di awal - awal 2009. Bagian pemasaran yang menjadi ujung tombak perusahaan tidak dapat melakukan sesuatu yang cukup berarti karena kejenuhan dengan manajemen perusahaan.
Sebenarnya sebagai seorang staf keuangan,saya tidak mempunyai kewajiban untuk terjun di pemasaran. Tapi, bukankah jika suatu pekerjaan dilakukan bersama - sama akan terasa lebih ringan?bahkan kita dapat menambah ilmu sesuatu yang belum pernah kita tau. Apalagi staf - staf pemasaran disana sudah seperti saudara untuk saya. Jadi meski saya sebagai staf keuangan yang harus berada di kantor, saya berusaha membantu disela waktu luang saya, meski minimal by phone.
Setidaknya saya masih punya harapan untuk bangkit. Saya ajak teman - teman saya untuk bangkit. Tunjukan meski tanpa seorang pemimpin kita bisa maju, karena sebenarnya kita juga seorang pemimpin. Pemimpin bagi diri sendiri. Mau maju, itu tergantung kita. Akhirnya ditengah keterpurukan, kita mencoba untuk bertahan. Untuk sekedar tau, saya dan teman itu ada sejak sebelum perusahaan berdiri. Jadi, jika kami semua ini harus berakhir,kami ingin kami ada dalam ikhtiarnya dan dapat berusaha semaksimal mungkin sebelum meliht kehancurannya.
Di bulan Februari itulah saya mulai benar - benar terjun, hingga serasa pimpinan perusahaan itu adalah saya. Relasi dari luar pun tahunya direktur perusahaan itu adalah saya. Masya'Allah...
di bual Februari itu saya mencoba membuka wilayah pemasaran baru. Kami mencoba membuat penawaran ke berbagai instansi. Sebagai ikhtiar, jika diterima syukur Alhamdulillah. Tapi jika tidak, mungkin belum rejekinya. Ikhtiar saya mungkin kurang keras. Dan saya yakin Insya'Allah, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Usaha kami ini ternyata tidak menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Disinilah saya niat awalnya ikhtiar coba - coba. Saya telepon salah seorang teman saya yang ada di daerah pedalaman di Labuhan Batu, Sumatra Utara sebut saja namanya Hamid. Nomor itupun saya minta dari seorang teman sebut saja namanya kholil, karena saya sudah tidak menyimpan nomor Hamid. Karena Hamid adalah seorang laki - laki, jadi memang saya tidak terlalu dekat dengan beliau. Hanya saja kami pernah kenal dan kerjasama. Singkat cerita,saya silaturahim Hamid lewat telepon. Yang berkhir dengan penawaran pemasaran produk kami disana. Janji Allah benar adanya. Silaturahim dapat membukakan pintu rizki. Allah mengganti rejeki kami dengan yang lebih baik.
Singkatnya, Pertengahan Februari sampai maret terjadi negosiasi antara saya dan hamid setelah saya kirim sample produk dan penawaran kesana. Kami diskusikan soal kualitas, harga, kemasan, dan banyak hal yang berhubungan dengan produk kami. Tapi saat itu saya sengaja untuk tidak memberitahukan terang - terangan ke teman - teman yang lain,karena saya pikir sebelum adanya kontrak kerjasama maka kerjasama ini belum terjadi. Saya tidak ingin teman - teman kecewa jika ternyata kerjasama ini tidak dapat terjalin sesuai harapan. Setelah melewati proses yang cukup berbelit, akhirnya kontrak kerjasama pemesanan 6 ton deterjen itu dapat dibuat. Saya sebut cukup berbelit karena kerjasama ini dapat terjalin dengan jaminan Hamid di pihak perusahaan Sumatra dan saya sebagai jaminan di pihak Yogya. Sebagai tanda jadi, Hamid telah mengirimkan DP sebesar 20jt kepada saya. Jika salah satu dari kami tidak amanah, maka kami berdua akan sama - sama masuk penjara. Perwakilan dari Sumatera ditunjuklah Kholil. Perwakilan dari Yogya adalah saya. Karena saat itu, semua pimpinan tidak ada ditempat, ada masalah - masalah yang harus mereka selesaikan tanpa saya tahu apa masalahnya. Ditunjuklah saya oleh pimpinan untuk mengampu tender saya sendiri ini. Jadi semua urusan terjadi antara kholil dan saya.
Dengan semangat yang harus selalu kami hadirkan, kami berusaha untuk bangkit. Saya mulai atur jadwal pembelian bahan baku, rencana produksi, pengajuan anggaran pembelanjaan, dsb. Terjadi keanehan disini. ketika pimpinan tahu saya pegang uang cash 20jt, tiba - tiba beliau sering datang kekantor menanyakan proses kerja saya untuk Sumut ini. Dan hari itu, kamis beliau meminjam sebagian uang DP untuk keperluan usaha sektor lain dengan janji hari senin akan dikembalikan. Dengan jaminan kendaraan beliau jika ternyata beliau tidak dapat mengembalikan. Ditengah kegalauan antara memberi dan tidak, beliau begitu memaksa. Sedangkan uang itu sudah terhitung secara matang sebagai DP untuk pemesanan bahan - baku dan keperluan lain berkaitan dengan pengadaan produk. Dan seharusnya minggu depan perusahaan juga harus mengeluarkan dana untuk penyelesaian pesanan. Saat itu dengan harap - harap cemas, saya berusaha untuk berbaik sangka. Akhirnya tibalah hari dimana kecemasan sya menjadi kenyataan. Kendraan yang dijadikan jaminan telah dijual, dana anggaran tidak keluar, dan yang lebih menyakitkan adalah semua atasan tidak ada yang menampakkan batang hidungnya beberapa lama. Masalah yang saya tidak tahu itu ternyata kekacauan di keuangan hingga posisi minus. Dikantor hanya tinggal 2 orang disektor deterjen. Staf pabrik 6 orang. Ya Allah, apa kami sanggup?.
Saat ada pesanan 6 ton deterjen, bahan baku tidak mencukupi. Untuk pembuatan 1 ton pun tidak bisa. Dana dari perusahaan nol. Jika ditanya bagaimana rasanya,entahlah. Sedih, kecewa, marah, bingung, khawatir semua bercampur menjadi satu. Jika saya orang kaya, mungkin saya tidak akan sepanik ini. Tapi tidak. Saya bukan orang kaya yang punya banyak simpanan. Ditengah kebingungan saya, saya harus segera mengambil sikap. Karena saya juga berlomba dengan waktu. Saya tidak boleh berdiam diri untuk menyesali keadaan. Saya yakin, didalam suatu masalah pasti ada jalan keluar. Ditengah ujian pasti ada hikmah yang luar biasa indah dari Allah SWT. Semua makhluk tidak ada yang bisa memberi bantuan yang cukup berarti. Diujung keterpurukan, Khalik lah tujuan saya. Antara harapan dan keputusasaan. Ya Allah, tidak ada yang dapat menjadi penolong melainkan Engkau. Engkau Maha Penolong dan sebaik - baik penolong. Tolonglah aku ya Allah..
Bismillah.. Saya harus tetap berusaha semampu saya. Selanjutnya, biarlah Allah yang menyelesaikannya. Disini karena saya yang berperan, saya yang jalan. Saya telepon kesana - kesini. Saya pergi kesana - kemari. Pesan plastik, cari yang cocok dari satu toko ke toko lain. Uang DP yang tersisa saya gunakan untuk pemesanan plastik kemasan dan karton box dimana itu harus cash. Uang ditangan saya tinggal 5jt, padahal saya belum dapat bahan baku. Ya Allah, aku yakin Engkau selalu ada ditengah kesulitanku. Bismillah, dengan modal 5jt ditangan saya mencoba mencari masukan kepada salah seorang teman suplier bahan baku yang kebetulan beliau juga mempunyai perusahaan yang bergerak dibidang yang sama. Saya utarakan semua masalah yang terjadi. Tanpa saya duga,Allah menunjukkan jalan keluarnya. Kebetulan beliau baru saja membeli bahan baku yang belum akan digunakan. Beliau bersedia untuk membantu masalah pengadaan bahan baku dengan seberapapun uang yang saya punya. Kekurangannya setelah kerjasama saya selesai. Subhanallah, saya mendapat 5,5 ton bahan bahan baku yang saya perlukan.
Masalah pertama telah teratasi. Masalah kedua adalah pencetakan kemasan. Tanpa uang sepeserpun. Ya Allah, bagaimana lagi ini. Kemasan, seperti biasa saya masukan ke percetakan langganan saya. Dengan sangat berhati - hati dalam berkata, berharap - harap cemas, saya bicara dengan pemilik percetakan. Saya utarakan permasalahan yang saya hadapi dengan harapan saya mendapat keringanan pembayaran dengan cicilan. Tapi Subhanallah, beliau justru bersedia membantu saya berpacu dengan waktu menyelesaikan kemasan dengan tidak membebankan masalah pembayaran kepada saya. Jika saya sudah punya uang, saya baru bayar ke beliau. Dalam hati ini tak hentinya mengucap syukur. Sesungging senyumpun kian lebar menghiasi bibir ini.
Ketika semua telah berjalan sesuai rencana, ada masalah yang hampir saja terlupakan. Pengiriman ke Sumut bagaimana?. Pengiriman kesana melalui ekspedisi. Karena 1 truk untuk muatan produk kita semua, maka saya dikenakan biaya sebesar 10jt. Bagaimana lagi ini?. Negosiasipun terjadi. Awalnya di telepon. Salah seorang pengurus ekspedisi ingin ketemu saja dengan saya langsung. Rencananya sya yang akan ke Magelang. Tapi bapak itu minta dia saja yang akan silaturahim ke Yogya. Sampai, di suatu hari kami betemu dikantor saya. Saya dengan teman, beliau juga dengan temannya. Ternyata beliau adalah pemilik ekspedisi itu sendiri. Dan ternyata beliau orangnya juga bersifat sangat ramah dan terbuka. Kami ngobrol, bicara soal pengalaman perjalan ke Sumatra, bagaimana buasnya jalanan lintas Sumatra. Sampai diputuskan berapa dan kapan kami harus membayar. Diluar dugaan, beliau mempersilahkan kami untuk membayar DP berapapun yang kami mampu. Sisanya jika barang sudah sampai ditempat tujuan, dan sudah dilunasi. Ya Allah, engkau lembutkan hatinya dan Engkau atur lisannya untuk membantuku ya Allah. Subhanallah...saya tak tahu lagi harus berkata apa selain syukur. Tapi, uang DP darimana?. Tanpa diduga, suatu pagi seorang teman kantor saya memberikan seberkas kertas kepada saya dan bilang bahwa beliau minta maaf tidak dapat membantu banyak. Setelah saya lihat, ternyata yang diberikan adalah BPKB kendaraan beliau. Saya diperkenankan menjadikan jaminan untuk pengadaan dana. Ada rasa sesak dalam dada ini. Antar sedih dan bahagia. Bismillah, dengan ketulusannya ya Allah akan saya gunakan sebaik mungkin. Dengan BPKB di tangan, kegundahanpun tak juga hilang. Kalau BPKB ini masuk kepegadaian, saya tidak mungkin mendapat uang sebesar 4jt yang akan saya gunakan sebagai DP dan biaya perjalanan teman yang saya minta akan ikut ke Sumut. Bukannya kami tak percaya dengan ekspedisi. Tapi kami hanya lebih berhati - hati dengan jerih payah dan pengorbanan yang kami keluarkan selama ini. Jangan dikira teman saya itu naik pesawat atau bus. Dia ikut naik truk bersama ekspedisi untuk menghemat biaya. Pengorbanan yang harus kami buat lagi. Dengan harapan yang masih tersisa, saya datangi teman dengan membawa BPKB itu. Rasa malu yang menggelayuti pikiran, saya pendam dengan memikirkan apa yang akan terjadi jika saya tidak memperoleh uang itu. Atas dasar ingin membantu, ternyata teman saya bersedia untuk meminjamkan 4jt itu. Maka 3jt untuk DP ekspedisi dan 1jt untuk bekal teman ke Sumut.
Semua berpacu dengan waktu. Tenaga, pikiran, total kami curahkan agar semua selesi tepat waktu. Alhamdulillah, 1 April 2009 pesanan siap diantar. Ekspedisipun siap berangkat. Selama di perjalanan lintas Sumatera, ketika sempat, maka teman saya harus mengabari saya terus. Kominikasi jangan sampai putus. Selama teman saya belum kembali dari Sumatera, saya tidak dapat tenang. Harap cemas selalu menggelayuti. Ya Allah, mudahkanlah. Sampai dihari ke empat, teman saya mengabarkan bahwa barang sudah diterima dan esok pagi pembayaran akan segera ditransfer.
Esok pagi setelah ditelepon bahwa uang sudah ditransfer, maka segera saya bergegas ke bank untuk mengecek. Subhanallah,kini uang sudah ada ditangan. Langsung hari itu saya tarik dan saya lunasi semua tanggungan saya. Bahagianya hati ini ketika masalah ini bisa saya selesaikan. Terima kasih banyak ya Allah. Semua rasanya plong. Sekarang kekhawatiran saya hanya menunggu kedatangan teman saya dari Sumut. Setelah beliau datang, lengkap sudah kebahagiaan saya. Akhir Mei yang indah.
Untuk semua orang yang telah membantu saya, semoga Allah membalas semua kebaikan kalian dengan kebaikan yang lebih sempurna. Amiin.
Saya merasa, kepemimpinan timbul bukan hanya karena sikap mental dan pola pikir. Namun keadaan, terjepit dalam suatu masalah, juga mempengaruhi kita untuk memiliki atau segera mengambil sikap sebagai seorang pemimpin. .
Keyakinan adalah kunci utama. Dan... tetap semangat !!!
Pengiriman kami ke Sumut sebenarnya membuka jalan kita ke wilayah lain. Tapi Mungkin Allah berkehendak lain. Awal Juni, pusat group kami ada masalah. Hingga akhirnyapertengahan Juni menjadi hari terakhir dimana kami masih bisa masuk kerja. Terima kasih ya Allah, Engkau memberikan pengalaman yang berharga dan kenangan terindah sebagai pemersatu persaudaraan diantara kami hingga saat ini, meski raga kami saat ini sudah tidak pernah bertatap.
Terima kasih Pak Awan atas kesempatan berceritanya...
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
Kamis, 01 Oktober 2009
REKRUITMEN CALON PENGELOLA PROGRAM "PERPUS KEJUJURAN"
Dear students,
Assalamu'alaikum wrwb
Dalam usaha m'numbuhkan etos kepemimpinan, budaya baca, & berbagi ilmu m'lalui program "Perpus Kejujuran" di Kampus Gejayan-UMBY, maka diperlukan orang2 yg bsdia turut mengelola program tsb; baik dlm hal pendataan buku, sosialisasi (promo), penghimpunan buku-buku baru (dari dosen, mahasiswa, penerbit, dsb), sarana-prasarana, dan lainnya.
So, bg anda yg bminat mencari keberkahan dunia dan melapangkan jalan ke surga; dgn m'sedekahkan pikiran, tenaga, waktu, ato apapun yg anda punya & bisa, silakan bgabung mjd pengelola program ini. Langsung aj hub. sy di 0816-169-1650, email: satriaegalita@yahoo.com, ato lewat blog (komentar) ini.
Thanks b4...
wassalam,
awan santosa
Assalamu'alaikum wrwb
Dalam usaha m'numbuhkan etos kepemimpinan, budaya baca, & berbagi ilmu m'lalui program "Perpus Kejujuran" di Kampus Gejayan-UMBY, maka diperlukan orang2 yg bsdia turut mengelola program tsb; baik dlm hal pendataan buku, sosialisasi (promo), penghimpunan buku-buku baru (dari dosen, mahasiswa, penerbit, dsb), sarana-prasarana, dan lainnya.
So, bg anda yg bminat mencari keberkahan dunia dan melapangkan jalan ke surga; dgn m'sedekahkan pikiran, tenaga, waktu, ato apapun yg anda punya & bisa, silakan bgabung mjd pengelola program ini. Langsung aj hub. sy di 0816-169-1650, email: satriaegalita@yahoo.com, ato lewat blog (komentar) ini.
Thanks b4...
wassalam,
awan santosa
TURUT BERDUKACITA ATAS MUSIBAH GEMPA DI PADANG....
Assalamu'alaikum wr wb
Pengelola kelas kepemimpinan menyampaikan rasa dukacita yang mendalam atas musibah gempa bumi yang menimpa saudara2 kita di Padang, Sumatera Barat. Semoga amal-ibadah mereka yang wafat diterima di sisi-Nya. Semoga Allah snantiasa memberi kesabaran, dan kekuatan bagi sanak-keluarga yang ditinggalkan untuk segera dpt bangkit kembali. Semoa pula Allah membukakan pintu hati kita smua untuk slalu mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap apapun yang telah menjadi ketentuan-Nya. Amin..
Wassalamu'alaikum wr wb
a1
Pengelola kelas kepemimpinan menyampaikan rasa dukacita yang mendalam atas musibah gempa bumi yang menimpa saudara2 kita di Padang, Sumatera Barat. Semoga amal-ibadah mereka yang wafat diterima di sisi-Nya. Semoga Allah snantiasa memberi kesabaran, dan kekuatan bagi sanak-keluarga yang ditinggalkan untuk segera dpt bangkit kembali. Semoa pula Allah membukakan pintu hati kita smua untuk slalu mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap apapun yang telah menjadi ketentuan-Nya. Amin..
Wassalamu'alaikum wr wb
a1
MEMIMPIN REMAJA MASJID (Ceritanya Kelas Kepemimpinan (6))
Assalamu'alikum Wr. Wb.
Disini saya mau membagi kisah saya tentang kegagalan saya memimpin sebuah organisasi. Saya putra pertama dari 1 bersaudara atau baisa disebut anak tunggal. Saya lahir di Yogyakarta, kecil di Jakarta dan mulai menetap di Yogya semenjak masuk Sekolah Dasar sampai sekarang. Dulu tinggal bersama kakek dan nenek sementara ayah dan ibu bekerja di Jakarta.tapi semenjak nenek meninggal sekitar 2tahun yang lalu ayah dan ibu sekarang tinggal bersama di Yogya. Saya tinggal di daerah Sedayu, Kabupaten Bantul, dan tempat yang saya tinggali daerah perbukitan, jadi teman2 saya sering bilang rumah saya GUNUNG. Tapi saya senang karena sifat ramah tamah, sopan santun dan kegotongroyongan masih sangat dijunjung tinggi.
Awal mula saya tinggal di desa saya mungkin hanya beberapa teman saja yang saya kenal, mungkin karena saya pemalu dan kurang bergaul dulunya. Tapi setelah masuk ke bangku SMK saya mulai bergaul dan mengenal banyak teman, salah satunya di lingkungan masjid.Mulai dari kegiatan masjid atau pengajian dan TPA saya aktif di dalamnya, sehingga pada saat itu saya dipercaya sebagai Sekretaris RISMA (Remaja Islam Masjid). Waktu berlalu begitu cepat hingga suatu saat banyaknya kesibukan dan kegiatan masing2 kepengurusan inti jadi kegiatan RISMA terbengkalai dan akhirnya vakum tanpa ada kegiatan.
Dari kejadian tersebut maka beberapa pengurus Takmir dan banyak diantara anggota RISMA mendesak agar dibentuk kembali kepengurusan baru. Dan akhirnya pada saat itu dibentuklah kepengurusan baru yang akhirnya saat itu sayalah yang ditunjuk sebagai Ketua 1 dan teman saya Jumali yang jadi Wakil ketua. Waktu itu nama RISMA diganti dengan HAMMAS (Himpunan Anak Muda MASjid) dengan acara tumpengan dan pengajian remaja. Saat itu memeng kenakalan remaja di desa kami agak parah terutama miras dan tawuran. Dan Jumali inilah yang sedikit banyak berpengaruh di lingkungan remaja. Kepengurusan kami membuat beberapa agenda yang antaranya setiap malam minggu diadakan kegiatan di masjid, dari arisan, ngaji Iqra', solawatan, dan lain2. Mungkin awal2 kepengurusan agenda itu dapat berjalan dengan lancar tapi selang beberapa bulan kemudian mungkin karena jenuh kegiatan tersebut lama2 berkurang dan berhenti, yang masih hanya arisan saja. Sebelumnya mungkin dalam kepengurusan ini saya sebagai ketua 1 hanya formalitas saja karena yang banyak bertindak sebagai penggerak adalah teman saya sbg Wakil Ketua. Waktu terus berjalan dan suatu ketika wakil ketua saya pergi bekerja ke luar kota hingga sekarang belum pulang. Sepeninggalan dia saya jadi kurang aktif dengan kegiatan masjid karena saya bingung apalagi belum pengalaman dalam berorganisasi. Dan sejak saat itu kepengurusan agak ruwet, karena sampai sekarang jabatan sekretaris dan bendahara yang memegang saya. Apalagi ditambah ada beberapa jama'ah yang suka mengkritik agak kebablasan tentang kebiasaan anak2 di masjid. Mulai saat itu hingga sekarang belum ada perubahan yang drastis tentang kemajuan HAMMAS. Dan mungkin yang ada dalam angan2 saya ingin membentuk pengurus baru yang lebih FRESH tapi sampai saat ini saya masih belum bisa.
Demikian sedikit cerita kegagalan saya dalam berorganisasi. Dan ada beberapa kekurangan saya yang sekaligus masukan buat saya tapi sampai saat ini belum bisa terlaksana :
1. Jika dalam organisasi jarang atau bahkan tidak pernah diadakan pertemuan meskipun sedikit pembahasan, maka organisasi tersebut akan hancur dan bubar.
2. Jika kita ingin bisa merubah kegiatan atau kebiasaan suatu kelompok , maka kita harus masuk di dalamnya terlebih dahulu.
3. Dalam berorganisasi apalagi dalam memeimpin maka fokuskanlah pada 1 organisasi, karena jika tidak terutama kemampuan kita dalam berorganisasi maka tidak akan berhasil ( saat ini saya juga aktif sebagai sekretaris RT, sekretaris Takmir, Wakil ketua Karang Taruna).
Mungkin demikian sedikit kisah dan pengalaman saya berorganisasi, semoga bisa menjadi masukan bapak dalam mengajar. Terimakasih
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Disini saya mau membagi kisah saya tentang kegagalan saya memimpin sebuah organisasi. Saya putra pertama dari 1 bersaudara atau baisa disebut anak tunggal. Saya lahir di Yogyakarta, kecil di Jakarta dan mulai menetap di Yogya semenjak masuk Sekolah Dasar sampai sekarang. Dulu tinggal bersama kakek dan nenek sementara ayah dan ibu bekerja di Jakarta.tapi semenjak nenek meninggal sekitar 2tahun yang lalu ayah dan ibu sekarang tinggal bersama di Yogya. Saya tinggal di daerah Sedayu, Kabupaten Bantul, dan tempat yang saya tinggali daerah perbukitan, jadi teman2 saya sering bilang rumah saya GUNUNG. Tapi saya senang karena sifat ramah tamah, sopan santun dan kegotongroyongan masih sangat dijunjung tinggi.
Awal mula saya tinggal di desa saya mungkin hanya beberapa teman saja yang saya kenal, mungkin karena saya pemalu dan kurang bergaul dulunya. Tapi setelah masuk ke bangku SMK saya mulai bergaul dan mengenal banyak teman, salah satunya di lingkungan masjid.Mulai dari kegiatan masjid atau pengajian dan TPA saya aktif di dalamnya, sehingga pada saat itu saya dipercaya sebagai Sekretaris RISMA (Remaja Islam Masjid). Waktu berlalu begitu cepat hingga suatu saat banyaknya kesibukan dan kegiatan masing2 kepengurusan inti jadi kegiatan RISMA terbengkalai dan akhirnya vakum tanpa ada kegiatan.
Dari kejadian tersebut maka beberapa pengurus Takmir dan banyak diantara anggota RISMA mendesak agar dibentuk kembali kepengurusan baru. Dan akhirnya pada saat itu dibentuklah kepengurusan baru yang akhirnya saat itu sayalah yang ditunjuk sebagai Ketua 1 dan teman saya Jumali yang jadi Wakil ketua. Waktu itu nama RISMA diganti dengan HAMMAS (Himpunan Anak Muda MASjid) dengan acara tumpengan dan pengajian remaja. Saat itu memeng kenakalan remaja di desa kami agak parah terutama miras dan tawuran. Dan Jumali inilah yang sedikit banyak berpengaruh di lingkungan remaja. Kepengurusan kami membuat beberapa agenda yang antaranya setiap malam minggu diadakan kegiatan di masjid, dari arisan, ngaji Iqra', solawatan, dan lain2. Mungkin awal2 kepengurusan agenda itu dapat berjalan dengan lancar tapi selang beberapa bulan kemudian mungkin karena jenuh kegiatan tersebut lama2 berkurang dan berhenti, yang masih hanya arisan saja. Sebelumnya mungkin dalam kepengurusan ini saya sebagai ketua 1 hanya formalitas saja karena yang banyak bertindak sebagai penggerak adalah teman saya sbg Wakil Ketua. Waktu terus berjalan dan suatu ketika wakil ketua saya pergi bekerja ke luar kota hingga sekarang belum pulang. Sepeninggalan dia saya jadi kurang aktif dengan kegiatan masjid karena saya bingung apalagi belum pengalaman dalam berorganisasi. Dan sejak saat itu kepengurusan agak ruwet, karena sampai sekarang jabatan sekretaris dan bendahara yang memegang saya. Apalagi ditambah ada beberapa jama'ah yang suka mengkritik agak kebablasan tentang kebiasaan anak2 di masjid. Mulai saat itu hingga sekarang belum ada perubahan yang drastis tentang kemajuan HAMMAS. Dan mungkin yang ada dalam angan2 saya ingin membentuk pengurus baru yang lebih FRESH tapi sampai saat ini saya masih belum bisa.
Demikian sedikit cerita kegagalan saya dalam berorganisasi. Dan ada beberapa kekurangan saya yang sekaligus masukan buat saya tapi sampai saat ini belum bisa terlaksana :
1. Jika dalam organisasi jarang atau bahkan tidak pernah diadakan pertemuan meskipun sedikit pembahasan, maka organisasi tersebut akan hancur dan bubar.
2. Jika kita ingin bisa merubah kegiatan atau kebiasaan suatu kelompok , maka kita harus masuk di dalamnya terlebih dahulu.
3. Dalam berorganisasi apalagi dalam memeimpin maka fokuskanlah pada 1 organisasi, karena jika tidak terutama kemampuan kita dalam berorganisasi maka tidak akan berhasil ( saat ini saya juga aktif sebagai sekretaris RT, sekretaris Takmir, Wakil ketua Karang Taruna).
Mungkin demikian sedikit kisah dan pengalaman saya berorganisasi, semoga bisa menjadi masukan bapak dalam mengajar. Terimakasih
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
CERITANYA KELAS KEPEMIMPINAN (5)
Salah satu hal yang tidak lepas dari kepemimpinan adalah cara menyelesaikan dan menghadapi masalah terutama dalam pekerjaan di musim sibuk seperti kemarin libur lebaran. Hotel termasuk yang paling sibuk kami menganggap musim masalah juga karena para tamu kadang tidak tanggung-tanggung menyampaikan komplin bila merasa tidak puas bahkan hingga marah-marah yang lebih dari batas kewajaran. Disisi lain saya merasa tertekan karena keterbatasan. Teman-teman saya yang tidak peduli akan yang lain bisa seenaknya tidak masuk jadi yang masuk malah mendapat tanggung jawab berlipat. Tapi beruntunglah karena dengan keadaan seperti itu saya bisa memecahkan solusi dari komplin yang ada. Untuk kedepannya saya juga tidak panik bila mendapat masalah serupa. Saya tidak tahu dengan para teman saya yang tidak masuk tanpa keterangan saya hanya bisa menggelengkan kepala. Dan saya bias tahu menilai bahwa kepemimpinan mereka atas mereka sendiri yang berkaitan dengan pekerjaan setidaknya tidak lebih baik dari saya yang masih dikatakan junior.
Senin, 28 September 2009
SEPENGGAL KISAHKU (Cerita Kepemimpinan (4))
Dua tahun lalu tepatnya bulan agustus tahun 2006 setelah saya lulus SMA . Saya sempat mengikuti pelatihan di sekolah pramugara pramugari di jogja , salah satu alasannya selain cita-cita saya adalah memang waktu itu lebih berorientasi untuk bisa cepat bekerja. Selang satu bulan saya belajar disitu kebetulan saya mendapat kesempatan kerja sebagai staff frontliner salah satu maskapai Indonesia di bandara Soekarno-Hatta Jakarta . Sebagai staff frontliner memang dituntut untuk tampil sempurna baik dari segi penampilan, karena kita selalu berinteraksi langsung dengan customer, dari segi waktu, karena tuntutan schedule penerbangan, prepare, delay dll. Yang terakhir adalah segi keahlian (skill )kita memang diharuskan mampu menguasai semua sector baik check-in, boarding gate, transfer desk , dan lost n found serta penanggulangan case dari setiap sektorna.
Meskipun pekerjaan itu bukanlah keinginan awal saya patut bersyukur banyak pelajaran dan pengalaman yang saya dapat . Pembelajaran mental adalah yang paling mengena , dari kecil saya belum pernah jauh dari keluarga bisa dikatakan waktu itu adalah awal pencarian jati diri untuk bisa mandiri dan bertanggung jawab . Dan saya benar merasakan perbedaan antara dunia yang dulunya saya sekolah dengan dunia kerja. Meski perubahan dan perbedaan itu mungkin hanya sedikit tetapi dari situ saya jadi tahu banyak hal mengenai tanggung jawab baik pekerjaan ataupun diri sendiri, kedisiplinan, kemandirian ,sampai dengan bagaimana hubungan antar manusia bisa terjalin dengan baik dan pastinya saya juga tahu bagaimana susahnya mencari uang.
Meskipun pekerjaan itu bukanlah keinginan awal saya patut bersyukur banyak pelajaran dan pengalaman yang saya dapat . Pembelajaran mental adalah yang paling mengena , dari kecil saya belum pernah jauh dari keluarga bisa dikatakan waktu itu adalah awal pencarian jati diri untuk bisa mandiri dan bertanggung jawab . Dan saya benar merasakan perbedaan antara dunia yang dulunya saya sekolah dengan dunia kerja. Meski perubahan dan perbedaan itu mungkin hanya sedikit tetapi dari situ saya jadi tahu banyak hal mengenai tanggung jawab baik pekerjaan ataupun diri sendiri, kedisiplinan, kemandirian ,sampai dengan bagaimana hubungan antar manusia bisa terjalin dengan baik dan pastinya saya juga tahu bagaimana susahnya mencari uang.
Jumat, 25 September 2009
Panduan Kelas Kepemimpinan
Aslm wr wb,
Dear students,
Secara ringkas kelas kita berusaha mengembangkan cara pikir (mindset) dan sikap mental kepemimpinan diri, yang selanjutnya menjadi modal dasar bagi pengembangan kepemimpinan di wilayah komunitas (masyarakat, organisasi, dan profesi/tempat kerja), dan di wilayah kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pada setiap wilayah kepemimpinan akan berisi muatan refleksi (perenungan), upaya membangun visi (mimpi/cita-cita), dan kiat-kiat merealisasikannya, demi meraih sukses baik di dunia maupun akherat.
Kelas akan berusaha diisi dengan berbagi cerita hidup (living story) yang mudah2-an dapat manjadi inspirasi dan motivasi untuk menjadikan hidup lebih bermakna dan diri kian berarti.
Kontribusi Anda dalam membagikan cerita hidup tersebut akan berpengaruh dalam pencapaian Anda dalam kelas ini.
Selamat mengikuti dan marilah berbagi..untuk terus memperbaiki diri & membenahi negeri...
wassalam,
awan santosa
Dear students,
Secara ringkas kelas kita berusaha mengembangkan cara pikir (mindset) dan sikap mental kepemimpinan diri, yang selanjutnya menjadi modal dasar bagi pengembangan kepemimpinan di wilayah komunitas (masyarakat, organisasi, dan profesi/tempat kerja), dan di wilayah kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pada setiap wilayah kepemimpinan akan berisi muatan refleksi (perenungan), upaya membangun visi (mimpi/cita-cita), dan kiat-kiat merealisasikannya, demi meraih sukses baik di dunia maupun akherat.
Kelas akan berusaha diisi dengan berbagi cerita hidup (living story) yang mudah2-an dapat manjadi inspirasi dan motivasi untuk menjadikan hidup lebih bermakna dan diri kian berarti.
Kontribusi Anda dalam membagikan cerita hidup tersebut akan berpengaruh dalam pencapaian Anda dalam kelas ini.
Selamat mengikuti dan marilah berbagi..untuk terus memperbaiki diri & membenahi negeri...
wassalam,
awan santosa
CERITANYA KELAS KEPEMIMPINAN (3)
Saya pernah bekerja di salah satu SPBU di Tobelo, Maluku Utara selama 1,5 Tahun. Di SPBU itu saya mendapat kedudukan sebagai Manajer, tetapi saat itu saya belum mempunyai pengalaman sama sekali. Dengan modal kepercayaan diri, akhirnya saya bisa melaksanakan tugas yang diberikan kepada saya.Banyak juga kendala yang saya dapati di SPBU, karena rata-rata yang bekerja di situ sudah berkeluarga jadi agak sulit menegur mereka yang lalai bekerja.Setiap hari saya terus belajar bagaimana mengatur setiap karyawan di SPBU agar bisa bertanggung jawab terhadap pekerjaan mereka. Setelah 2 bulan saya disitu, mereka mulai menerima keberadaan saya dan sikap mereka yang dulunya suka membantah setiap arahan dari saya, berubah menjadi dengar-dengaran dan patuh pada setiap arahan dari saya.Itulah sekilas pengalaman kerja saya di SPBU Tobelo Maluku Utara
Kamis, 24 September 2009
CERITANYA KELAS KEPEMIMPINAN (2)
pak ini salah satu pengalaman terbaik sayasaya pernah membaca hadits qudsi yang artinya"Aku (Allah) bagaimana prasangka hamba-Ku"hadits inilah yang membuat saya begitu yakin bahwa saya bisa melanjutkan kuliah di jogja, walau uang tuk kuliah pas-pasan, saya tetap yakin Allah adalah Maha segalanya. saya berangkat ke jogja dengan keyakinan kepada Allahdengan keyakinan yang tinggi saya pasti bisa, karena jika kita merasa bisa pasti kita bisa, karena prasangka kita adalah Prasangka Allahdan sekarang terbukti saya bisa kuliah di jogjawalau masih banyak masalah yang saya dapatkan, tempat kuliah yang jauh dari tempat tinggal, gak punya laptop buat kuliah dll.tapi saya yakin suatu saat saya pasti sukses.mungkin cuma ini yang saya bisa sampaikanbagi teman2 yang belum mendapatkan apa2 yakinlah selalu suatu saat nanti kita akan mendapatkannya. dan percayalah Allah pasti mendengar isi hati kita
MET IDUL FITRI & MOHON MAAFKAN SAYA...
Assalamu'alaikum wr wb,
Di hari yang baik ini sy turut m'ucapkan selamat Idul Fitri 1430 H & sy mohon maaf bwt smua salah/khilaf di tutur kata, sikap, & pbuatan sy slama ni. Moga qta tmasuk orang2 yg snantiasa bs m'perbaiki diri dan m'benahi negeri..
Ditunggu crita2 kepemimpinan-nya...
Trims,
wassalam
awan santosa (0816-169-1650)
www.awansantosa.blogspot.com
satriaegalita@yahoo.com
Di hari yang baik ini sy turut m'ucapkan selamat Idul Fitri 1430 H & sy mohon maaf bwt smua salah/khilaf di tutur kata, sikap, & pbuatan sy slama ni. Moga qta tmasuk orang2 yg snantiasa bs m'perbaiki diri dan m'benahi negeri..
Ditunggu crita2 kepemimpinan-nya...
Trims,
wassalam
awan santosa (0816-169-1650)
www.awansantosa.blogspot.com
satriaegalita@yahoo.com
CERITANYA KELAS KEPEMIMPINAN (1)
Disini saya ingin menceritakan pengalaman hidup saya baik pahit maupun manis yg saya alami selama 24 th ini.Keluarga saya memberikan kebebasan kepada saya dan kakak saya dalam setiap mengambil keputusan dan belajar mandiri asalkan itu bisa di pertanggungjawabkan dan tidak merugikan orang lain yang paling utama adalah tidak mengecewakan orang tua. Dimulai dari saya SD-SMA kelas 1 saya slalu menduduki peringkat 3 besar di kelas maupun keseluruhan kelas,tapi saat saya mulai duduk dikelas 2 semangat belajar saya mulai kendor karena saya selalu dibanding-bandingkan dengan kakak saya.Saya sadar dalam segala hal saya jauh di belakangnya,karena itulah saya mulai jadi pembangkang.Saya sadar apa yang saya lakukan hanya membuat orang tua saya kecewa,hingga saya menamatkan SMA.Lulus dari SMA orang tua saya memberikan kepercayaannya lagi kepada saya untuk melanjutkan kuliah ke UNY.Hingga semester 3 uang kuliah dan biaya lainnya masih di subsidi dari orang tua.Menginjak ke semester berikutnya saya tidak pernah lagi meminta subsidi dari orang tua,saya mampu membiayai kuliah saya dengan uang hasil jerih payah sendiri selama bekerja.Tapi justru karena merasa sudah mampu bisa mencari uang sendiri saya jadi mengabaikan kuliah saya,sehingga saya hanya bisa melanjutkan kuliah sampai semester 5.Dan untuk kedua kalinya juga saya mengecewakan keluarga.Hingga terkadang saya merasa malu untuk pulang ke rumah,sampai saya menyakinkan dan menanamkan dalam hati "Saya Harus Bisa Membuat Orang tua saya bangga".meskipun saya tidak bisa menamatkan kuliah saya di UNY,dalam hal pekerjaan saya tidak ingin kalah dari orang lain yang menyandang gelar sarjana.Sewaktu saya diterinma bekerja di sbuah Hotel ternama di jogja, saya menjalaninya dengan senang hati.Saya jadi terlena oleh pekerjaan saya dan sedikit mengabaikan keluarga saya,dan Uti (simbah putri) yang bisa dikatakan saya cucu kesayangan.pernah suatu hari saya mendapat pesan dari tetangga Uti agar saya menjenguknya biar cuma sebentar tapi saya tidak bisa datang karena alasan kerja.Hingga hari ke 5 setelah mendapat pesan itu dalam hati saya ingin datang,tapi saya sangat terkejut sekali .Sesampainya di rumah uti ternyata sudah banyak orang dan polisi berkumpul disana.Ternyata uti sudah meninggal dengan tidak wajar karena di aniaya orang.Saya benar2 terpukul,sampai sekarang saya merasa bersalah karena mengabaikan amanat,dimana semasa hidupnya saat itu hanya meminta saya meluangkan waktu sebentar.samapai beberapa hari kematian uti masih membayangi saya sampai saya tidak konsentrasi dalam bekerja.Saya menyalahkan diri saya atas kematian uti.Ada salah satu karyawan Hotel dimana tempat saya bekerja memberi nasehat untuk belajar sabar,ikhlas menerima cobaan dan juga memberi nasehat yang saya jadikan pedoman " Setiap orang berkesempatan bekerja dan sukses tidak di nilai dari gelar kesarjanaan tapi asalkan ada kemauan,tekad,keberanian,pantang menyerah,kerja keras, kejujuran dan tanggung jawab,itu adalah kunci untuk meraih keberhasilan".Pedoman itulah yang sampai sekarang saya terapkan dalam hidup saya dan juga nenjadi spirit saya,hingga saya berganti-ganti pekerjaan.Setelah hampir 4 th saya menekuni dunia kerja saya mulai berniat untuk melanjutkan kuliah lagi untuk yang kedua kali.Hasil kerja saya tabung sedikit demi sedikit untuk melanjutkan kuliah.Dan akhirnya Apa yang selama ini saya inginkan bisa saya dapatkan,saya sekarang bisa melanjutkan kuliah lagi dengan biaya sendiri tanpa harus tergantung dari orang tua dan bertekad untuk menyelesaikan hingga meraih gelar sarjana.Dan saya juga sedikit demi sedikit bisa meringankan orang tua saya.meskipun saya tidak bisa memberikan finansial secara berlebih tapi paling tidak untuk kali ini saya tidak ingin mengecewakan keluarga saya lagi.dengan menekankan pada diri saya dengan pedoman yang saya pegang selama ini dan tekad saya ,"Saya Bisa dan Saya Harus Bisa ".
Langganan:
Postingan (Atom)